RAKYATDAILY.COM – Tokoh aktivis dan pengamat politik, Yusuf Blegur, melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pernyataan panjang yang disampaikan dari Bekasi pada 19 Mei 2026, Yusuf menilai kepemimpinan Prabowo sarat narasi emosional namun minim kerja nyata yang dirasakan rakyat.
Menurut Yusuf, Presiden Prabowo terlalu sering tampil dengan pidato berapi-api yang justru dinilai menutupi berbagai persoalan mendasar pemerintahan.
Ia menyebut gaya komunikasi politik tersebut tidak menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat yang tengah menghadapi tekanan ekonomi dan sosial.
“Rakyat terlalu sering disuguhi narasi dari pidato berapi-api dan menggebu-gebu penuh emosi, ketimbang tindakan nyata dalam memberantas korupsi, mereduksi kemiskinan dan kebodohan serta meningkatkan daya hidup rakyat,” tulis Yusuf dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Dalam kritiknya, Yusuf juga menyinggung masa lalu Prabowo, mulai dari karier militer hingga dinamika politik pasca reformasi.
Ia menilai Presiden gagal memanfaatkan momentum kekuasaan untuk melakukan pembuktian moral dan pengabdian kepada rakyat.
Tak hanya itu, Yusuf turut menyoroti kondisi demokrasi Indonesia pasca Pilpres 2024 yang menurutnya diwarnai berbagai persoalan etika politik.
Ia bahkan menyebut pemerintahan saat ini masih berada dalam bayang-bayang pengaruh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, serta oligarki politik dan korporasi.
Dalam narasi tajamnya, Yusuf menggambarkan kondisi pemerintahan sebagai situasi yang dipenuhi penjilat kekuasaan dan minim ruang bagi kritik independen.
Ia menilai suara akademisi, aktivis, ulama, hingga purnawirawan TNI-Polri tidak lagi mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Meski demikian, di akhir pernyataannya Yusuf tetap menyampaikan pesan moral kepada kepala negara.
Ia menegaskan bahwa ukuran utama seorang pemimpin bukan semata kecerdasan intelektual, melainkan kebijaksanaan dan akhlak dalam menjalankan kekuasaan.
“Seseorang boleh saja tolol tapi sebagai presiden tetap harus bijak. Karena siapapun pemimpin dan terlepas dari seberapa besar kadar intelektualnya, maka akhlak yang menjadi pondasinya,” tegas Yusuf Blegur.
Sumber: RadarAktual