RAKYATDAILY.COM – Presiden Prabowo Subianto menjadi perhatian publik usai mengalami slip of the tongue alias keseleo lidah saat menyampaikan pidato di hadapan anggota DPR RI.
Momen tersebut terjadi saat sang kepala negara memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Potongan video pidato itu kemudian ramai beredar di media sosial.
Dalam rekaman tersebut, Prabowo awalnya menyebut pemerintah telah menaikkan gaji guru hingga hampir 300 persen.
Namun hanya dalam hitungan detik kemudian, ia langsung menyadari adanya kesalahan penyebutan profesi dan segera mengoreksinya.
Dalam pidatonya, Prabowo sebenarnya sedang membahas peningkatan kesejahteraan aparat penegak hukum, khususnya hakim.
Namun, mungkin karena kurang fokus, ia sempat keliru menyebut profesi guru.
“Karena itu pemerintah saya telah menaikkan gaji-gaji guru. Ada yang sampai hampir 300 persen, naiknya penghasilan guru-guru. Eh, (maksudnya) hakim-hakim kita, maaf, hakim,” ujar Prabowo.
Setelah mengoreksi ucapannya, Prabowo terlihat sempat berhenti beberapa saat sebelum kembali melanjutkan pidato di ruang sidang paripurna.
Momen spontan tersebut langsung memancing perhatian peserta rapat dan publik yang menyaksikan siaran pidato Presiden.
👇👇
Prabowo: “Karena itu pemerintah saya telah menaikkan gaji-gaji guru, ada yang sampai hampir 300% naiknya penghasilan guru-guru eh, hakim-hakim kita, maaf, hakim” pic.twitter.com/TRsEIjK99E
— Jejak digital. (@ARSIPAJA) May 20, 2026
Usai meluruskan pernyataannya, Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra itu menjelaskan bahwa pemerintah memang sedang fokus meningkatkan kesejahteraan hakim di Indonesia.
Menurut Prabowo, langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat integritas lembaga peradilan sekaligus mencegah praktik korupsi dan suap di lingkungan aparat hukum.
Ia bahkan mengaku bangga setelah menerima laporan mengenai tingkat penghasilan hakim di Indonesia yang disebut mulai kompetitif dibanding negara tetangga.
“Saya sekarang bangga karena bangga laporan Ketua Mahkamah Agung kita penghasilannya lebih tinggi dari Ketua Mahkamah Agung Singapura dan juga hakim paling junior kita gajinya lebih tinggi dari hakim junior di Malaysia,” papar eks Danjen Kopassus itu.
Mantan Menteri Pertahanan era Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu menegaskan, kenaikan kesejahteraan hakim bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga bagian dari upaya membangun sistem hukum yang bersih dan berintegritas.
Pemerintah, kata dia, ingin memastikan aparat penegak hukum tidak mudah tergoda praktik suap maupun intervensi pihak tertentu.
“Ini langkah nyata untuk kita ciptakan institusi-instusi yang bersih, kita tidak mau hakim-hakim kita disogok, dibeli. Kita tidak mau juga semua aparat kita lainnya seperti itu,” tuntasnya.
Sumber: Konteks