Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini memiliki rekam jejak panjang muktamar yang tak hanya menjadi ajang permusyawaratan.
Tetapi juga momentum besar yang sering menjadi titik balik arah organisasi.
Dari Situbondo pada 1984 hingga Jombang pada 2015, berbagai muktamar heboh justru berhasil membawa NU pada konsolidasi dan kematangan baru.
Salah satu muktamar paling berpengaruh dalam sejarah NU adalah Muktamar ke-27 di Situbondo pada 1984.
Saat itu, NU tengah berada dalam suasana penuh dinamika internal, terutama terkait arah organisasi dan keterlibatannya dalam politik praktis.
Perbedaan pandangan cukup kuat di antara para tokoh, dan muktamar itu menjadi sorotan publik karena dinilai sangat menentukan masa depan NU.
Namun, di balik atmosfer yang heboh tersebut, Situbondo justru melahirkan keputusan monumental: Kembali ke Khittah 1926.
Keputusan ini membuat NU kembali fokus sebagai organisasi sosial-keagamaan, bukan organisasi politik.
Dari muktamar inilah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.
Dan membawa NU menuju arah baru yang lebih modern, inklusif, dan berpengaruh di tingkat nasional.
Tiga dekade setelah Situbondo, Muktamar Jombang 2015 menjadi salah satu gelaran yang tak kalah menarik perhatian.
Suasananya ramai, penuh gagasan, dan menjadi panggung diskusi besar antar-kubu pemikiran di internal NU.
Bukan soal konflik kepemimpinan, tetapi perdebatan mengenai konsep-konsep baru yang berkembang dalam wacana keagamaan Indonesia.
Berbagai gagasan mendapatkan sorotan, dan muktamar ini mempertegas bahwa NU selalu mampu merawat perbedaan dengan cara yang dewasa.
Meski sempat menyita perhatian publik, muktamar tersebut tetap berlangsung teduh.
Dan menghasilkan keputusan-keputusan penting mengenai arah pemikiran dan kekuatan tradisi keilmuan NU.
Muktamar ke-34 pada 2021 di Lampung juga mencuri perhatian karena berlangsung pada momentum penting: memasuki abad kedua NU.
Pilihan kepemimpinan menjadi sorotan publik karena menjadi simbol arah perubahan NU ke depan.
Dalam suasana penuh perhatian itu, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.
Muktamar ini disebut sebagai tonggak konsolidasi awal memasuki abad kedua, sekaligus penguatan posisi NU dalam berbagai isu sosial, keagamaan, hingga hubungan internasional.
Meski suasananya hangat, seluruh proses tetap berjalan damai dan elegan, menegaskan karakter NU sebagai organisasi besar yang matang.
Memasuki 2026, dinamika internal NU kembali menjadi perhatian publik.
Sepanjang 2025, sempat muncul perbedaan pandangan di antara pengurus, namun suasana kembali mencair dalam forum islah di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada akhir tahun.
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Gus Yahya sepakat memandang muktamar sebagai jalan terbaik untuk menyatukan langkah NU.
Kesepakatan ini banyak diapresiasi karena mencerminkan kedewasaan NU dalam menghadapi dinamika internal.
Persis seperti Situbondo 1984 dan Jombang 2015.
Situasi menjelang muktamar justru memunculkan harapan positif akan konsolidasi besar dan penyusunan arah baru organisasi ke depan.
Dengan tradisi kuat bahwa setiap dinamika besar NU selalu menemukan titik terang melalui Muktamar, Muktamar 2026 diprediksi menjadi momentum penting berikutnya.
Bukan sebagai ajang pertarungan, tetapi sebagai forum besar yang kembali mempertegas watak NU heboh, dinamis, namun selalu berakhir dalam kerukunan dan persatuan.