Viral lantaran menyebut siswa yang mengunggah temuan belatung di makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai tindakan “tidak bersyukur”.
Publik sontak meledak dan geram, terlebih temuan belatung tersebut adalah persoalan higienitas yang berhubungan langsung dengan kesehatan anak sekolah.
Kisruh bermula dari unggahan siswa di sebuah sekolah yang memperlihatkan belatung di dalam menu MBG.
Unggahan itu viral, memicu gelombang kritik terhadap kualitas makanan program MBG yang tengah diuji masyarakat.
Namun yang tak kalah membuat heboh adalah respons seorang akademisi yang justru menyalahkan siswa.
Dalam pernyataannya yang dilansir tempo.co, Profesor Ikeu menyebut secara gamblang:
“Seperti tadi contoh ada belatung di menu MBG, apa untungnya buat anak?” ujar dia dalam diskusi soal MBG di Ruang Belajar Alex Tilaar, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Desember 2025.
Kutipan tersebut langsung menjadi pemantik polemik.
Banyak warganet yang merasa pernyataan itu tidak pada tempatnya, terutama karena siswa dianggap hanya menyampaikan kondisi nyata dari makanan yang mereka terima di sekolah.
Tidak berhenti di situ, sang profesor juga mempertanyakan manfaat unggahan tersebut. Ia menyampaikan:
“Kami takutnya, itu malah membentuk jiwa tidak bersyukur dari anak-anak,” ucapnya.
Dalam pandangannya, siswa seharusnya melaporkan langsung kepada guru atau pihak sekolah.
Menurutnya, publikasi di media sosial justru memperkeruh suasana dan menunjukkan sikap yang tidak baik.
Pernyataan inilah yang kemudian membuat reaksi publik semakin liar.
Banyak pihak menyayangkan komentar itu dan menilai bahwa siswa memiliki hak untuk bersuara, terlebih jika berkaitan dengan makanan yang tidak layak konsumsi.
Dalam konteks kesehatan anak, temuan belatung dianggap sebagai hal serius dan tidak seharusnya dibungkam hanya demi menjaga citra program.
Di sisi lain, pihak pendidikan turut memberikan respons.
Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyebut banyak siswa dan guru memang merasa kesulitan.
Dalam menyampaikan keluhan melalui jalur resmi karena takut adanya tekanan struktural di sekolah.
Mereka menilai keberanian siswa mempublikasikan temuan itu ke publik adalah bentuk kepedulian terhadap keselamatan teman-temannya.
Sementara itu, sebagian masyarakat menilai unggahan siswa justru membantu pemerintah melakukan evaluasi.
Keberadaan belatung menandakan adanya persoalan dalam rantai penyediaan makanan mulai dari dapur, proses distribusi, hingga pengawasan mutu.
Kisruh ini sekaligus membuka kembali berbagai catatan masalah MBG yang sebelumnya juga sudah mendapat sorotan.
Mulai dari mutu makanan yang dinilai tidak konsisten, kasus keracunan di beberapa daerah, hingga keluhan kebersihan dan porsi yang dianggap tidak layak.
Meski demikian, Profesor Ikeu tetap menekankan pentingnya mekanisme pelaporan resmi.
Ia menyebut pemerintah tengah menyiapkan sistem pengaduan terpadu, sehingga siswa bisa menyampaikan keluhan tanpa harus memviralkan kejadian.
Namun, di ruang publik, pernyataan sang profesor terlanjur memicu gelombang reaksi besar.
Sebagian warganet membandingkan pernyataan itu dengan realitas di lapangan anak-anak sekolah mendapat makanan yang seharusnya bergizi, tetapi justru ditemukan belatung.
Hingga artikel ini ditulis, perdebatan masih terus berlangsung. Publik menilai persoalan utama bukan pada unggahan siswa, melainkan pada mutu makanan yang tidak layak.
Sedangkan sebagian lainnya menilai komunikasi publik harus dilakukan dengan bijak agar tidak menimbulkan kegaduhan.
Yang jelas, kisruh ini menjadi alarm penting bagi pemerintah untuk meningkatkan standar kualitas MBG serta memperbaiki saluran pengaduan.
Agar lebih aman, responsif, dan tidak membuat siswa merasa takut.