RAKYATDAILY.COM – Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh dugaan tindakan diskriminatif dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kali ini, sorotan tertuju pada Dapur MBG Trimulyo setelah dua orang siswa diduga sengaja dicoret dari daftar penerima bantuan makanan hanya karena orang tua mereka menyampaikan protes.
Akibat keputusan sepihak tersebut, kedua siswa harus menahan lapar saat teman-teman sekelas mereka menikmati makan siang bergizi.
Peristiwa ini menuai kecaman publik karena dinilai bertentangan dengan semangat utama program MBG yang bertujuan menjamin hak dasar anak-anak tanpa diskriminasi apa pun.
Situasi semakin memanas ketika Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) melakukan inspeksi mendadak ke lokasi dapur MBG Trimulyo.
Dalam sidak tersebut, sikap kepala dapur justru dinilai defensif dan tidak kooperatif, sehingga memicu reaksi keras dari para pejabat yang hadir.
Salah satu anggota DPRD secara tegas mempertanyakan kebijakan pengelola dapur yang dianggap tidak manusiawi.
Ia menyoroti keputusan menghentikan pembagian makanan kepada dua siswa hanya karena orang tua mereka menyampaikan keluhan.
“Ini benar ya, dapur MBG tidak membagikan makanan kepada dua anak hanya karena ibunya protes? Lalu apakah benar pihak dapur mendatangi rumah orang tua siswa tersebut? Itu sudah masuk kategori intimidasi,” tegas anggota DPRD, (27/1/2026).
Kepala dapur MBG Trimulyo pun mencoba memberikan klarifikasi.
Ia membantah adanya unsur intimidasi, namun mengakui telah mendatangi rumah orang tua siswa dengan alasan menjelaskan petunjuk teknis pelaksanaan program.
“Kalau intimidasi tidak, Pak. Saya memang datang untuk menjelaskan juknis. Karena yang diserang itu sistemnya,” ujarnya.
Namun penjelasan tersebut tidak meredakan ketegangan.
Pejabat DPRD menilai, jika memang terdapat persoalan administratif atau keberatan terhadap sistem, seharusnya ditempuh melalui jalur hukum, bukan dengan menghukum anak-anak.
“Kalau lembaga merasa dirugikan, silakan tempuh jalur hukum. Tapi jangan anak-anak yang jadi korban,” ujar pejabat tersebut dengan nada tinggi.
Saat didesak apakah mulai hari itu makanan akan kembali dibagikan kepada dua siswa, kepala dapur kembali berdalih soal anggaran.
Ia menyebut anggaran tidak berkurang, namun hanya dialokasikan untuk 3.831 dari total 3.833 siswa.
Pernyataan itu justru menjadi titik balik. Pejabat DPRD langsung menyimpulkan bahwa pengelola dapur secara sadar telah menghilangkan hak dua anak. Tanpa kompromi, keputusan tegas pun diambil.
“Daripada kita berdebat panjang, mulai hari ini dapur MBG ini saya minta ditutup,” tegasnya.
Keputusan penutupan dapur MBG Trimulyo disambut sorak warga sekitar.
Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa program sosial negara tidak boleh dijalankan dengan ego, apalagi dijadikan alat balas dendam yang merugikan anak-anak yang sama sekali tidak bersalah.
View this post on Instagram
Sumber: PojokSatu