RAKYATDAILY.COM – Pernyataan mengejutkan datang dari Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria.
Di hadapan publik, ia membeberkan fakta besar yang langsung mengguncang jagat ekonomi nasional.
Menurutnya, total kerugian BUMN mencapai angka yang tak main-main Rp 20 triliun dalam satu tahun.
“Total akumulasi loss daripada anak-anak perusahaan BUMN satu tahun itu adalah Rp 20 triliun. Itu akumulasi loss, akumulasi kerugian daripada perusahaan BUMN,”
Pernyataan ini memantik kehebohan karena menyentuh persoalan laten di tubuh perusahaan pelat merah kerugian yang ternyata tak hanya bersumber dari laporan keuangan utama.
Dony menjelaskan bahwa kerugian langsung (direct loss) yang tercatat di laporan laba-rugi hanyalah sebagian dari masalah yang ada.
Ia kemudian memecah penjelasan menjadi bagian yang lebih mengejutkan lagi.
“Direct loss yang tercantum di dalam rugi laba perusahaan, tetapi indirect loss-nya, karena layering transaction,”
“karena umumnya yang loss itu adalah anak-anak perusahaan, bukan induknya. Dan menciptakan inefisiensi, itu another Rp 30 triliun lagi,” lanjutnya.
Dengan demikian, total potensi kerugian baik tercatat maupun tidak langsung bisa menembus angka Rp 50 triliun.
Fakta ini memperkuat dugaan bahwa struktur bisnis BUMN perlu perombakan besar-besaran.
Meski demikian, Dony menegaskan bahwa persoalan ini tidak ada kaitannya dengan tenaga kerja.
Justru menurutnya biaya tenaga kerja hanya merupakan porsi kecil dari keseluruhan beban perusahaan.
“Total biaya tenaga kerjanya cuma Rp 2 triliun. Jadi, bagi saya lebih baik saya menyelesaikan proses menghilangkan total kerugian Rp 20 triliun ini dengan tetap meng-absorb tenaga kerja yang ada,” tegasnya.
Pernyataan tersebut memberi sinyal kuat bahwa sumber kerugian BUMN bukan berasal dari SDM, tetapi dari struktur usaha yang berlapis-lapis dan inefisiensi sistemik.
Publik kini menanti langkah Danantara dan pemerintah dalam membongkar akar persoalan yang telah lama menggerogoti BUMN.
Sumber: PojokSatu