RAKYATDAILY.COM – MENTERI Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menyatakan keinginan mengukur efektivitas program makan bergizi gratis (MBG) terhadap penerima manfaat yang mengonsumsinya selama satu tahun.
“Kita ukur. Kalau sebelum makan bergizi bagaimana fisiknya, pertumbuhannya, termasuk tentu pertumbuhan otak,” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026.
Menanggapi pernyataan Zulkifli, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengatakan evaluasi efektivitas program MBG terhadap kondisi penerimanya merupakan hal yang harus diukur.
Ia mengatakan pengukuran efektivitas itu akan dilakukan oleh lembaga independen.
Dadan kemudian menyontohkan di Jepang terdapat pengukuran perbedaan tinggi badan dari masyarakat kelahiran 1940-an hingga 2000-an.
“Itu terjadi peningkatan yang signifikan akibat peningkatan kualitas gizi. Jadi bukan hanya potensi genetik, tapi juga kualitas gizi. Nah, Indonesia akan seperti itu,” kata dia.
Sementara itu soal perkembangan kemampuan otak, Dadan mengatakan pengukuran akan dilakukan melalui rangkaian tes IQ.
Rencana mengukur efektivitas MBG disampaikan Zulkifli usai rapat terbatas ihwal pelaksanaan MBG.
Rapat digelar di kantor Kementerian Koordinator Pangan dan dipimpin Zulkifli Hasan serta dihadiri Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana, Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi.
Rapat yang berlangsung sekitar dua jam itu membahas tiga topik.
Pertama soal revisi surat keputusan bersama menteri terkait dengan daftar lokasi pembangunan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang dibiayai pemerintah pusat, untuk menyesuaikan kesiapan pelaksanaan di lapangan.
Kemudian soal jumlah penerima manfaat MBG dan pelaksanaan program tersebut selama Ramadan.
Dalam rapat tersebut, pemerintah sepakat memangkas lokasi SPPG yang dibiayai Kementerian Keuangan dari 542 titik menjadi 315 lokasi.
Sementara itu lokasi SPPG yang dinaungi Kementerian Pekerjaan Umum dipangkas menjadi 222 lokasi dari semula 264 titik.
Lalu soal pelaksanaan MBG saat Ramadan, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menyatakan program itu tetap berjalan dengan mengubah menu.
“Untuk muslim yang berpuasa dikasih makanan kering. Sekolah-sekolah yang tidak berpuasa, seperti biasa,” kata dia.
Ia mengatakan penyaluran MBG pada Ramadan akan disesuaikan berdasarkan jenis penerima manfaat.
Penyaluran MBG untuk sekolah umum dengan siswa muslim akan dilakukan siang hari dengan makanan kering.
Sementara menu makanan dan penyaluran MBG akan dilakukan seperti biasa bagi sekolah yang tidak menunaikan puasa, begitu pun dengan ibu hamil dan balita.
Adapun penyaluran makan bergizi gratis untuk pesantren dilakukan sore hari menjelang waktu berbuka puasa.
“Hanya geser waktu, hanya SMA umum yang muslim itu ganti makanan kering. Lain-lainnya tetap,” kata politikus Partai Amanat Nasional itu.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengatakan makanan kering itu berupa kurma, olahan telur seperti telur rebus, telur asin, atau telur pindang, buah, susu, dan abon.
Soal waktu penyaluran MBG, Dadan mengatakan akan diberikan saat murid pulang sekolah.
“Untuk menjadi menu pada saat buka puasa,” ujarnya.
Hingga kini Badan Gizi Nasional mencatat jumlah penerima manfaat telah mencapai 60 juta orang.
Sementara itu jumlah satuan pemenuhan pelayanan gizi atau SPPG telah mencapai 22.091 unit dengan jumlah pegawai mencapai 924.424 orang.
Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menyatakan program asta cita ini telah menyerap ribuan tenaga kerja langsung.
Misalnya, kata Zulkifli, staf SPPG yang saat ini diproses menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) mencapai 32 ribu orang.
Sementara itu terdapat 21.413 mitra MBG dan terdapat 68.551 pengusaha UMKM yang berstatus sebagai pemasok MBG.
Sumber: Tempo