RAKYATDAILY.COM – Nama Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim ikut terseret dalam percakapan email yang baru dirilis, yang melibatkan penjahat seks Amerika Serikat Jeffrey Epstein.
Anwar termasuk di antara beberapa tokoh dunia, termasuk Perdana Menteri India Narendra Modi, miliarder Bill Gates, dan mantan Pangeran Inggris Andrew.
Pada Minggu (1/2), Anwar menanggapi rumor tersebut dalam unggahan di media sosial.
Dia mengeklaim bahwa namanya hanya “disebutkan” dalam pertukaran email yang terjadi pada 2012.
“Sudah lebih dari satu dekade seperti yang disebutkan dalam email tersebut, dan saya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan pihak mana pun yang bertukar email tersebut, terutama Epstein,” tulis Anwar, dikutip SCMP.
Email yang dimaksud tertanggal 21 Februari 2012, dikirim antara Epstein dan pengirim yang namanya disensor.
Saat itu, Anwar adalah pemimpin oposisi dan sedang mempersiapkan pemilu Malaysia 2013.
Dia baru menjadi perdana menteri satu dekade setelahnya, yakni pada 2022.
Pengirim email, yang namanya disensor, mengusulkan untuk memperkenalkan Anwar kepada “Jes”, yang diduga sebagai bankir Jes Staley.
Di email itu, disebut bahwa potensi kenaikan Anwar Ibrahim ke tampuk kekuasaan bisa menjadi peluang bisnis untuk JPMorgan Chase.
“Haruskah kita mengatur pertemuan Jes dengan Anwar Ibrahim? Jika dia menjadi Perdana Menteri Malaysia, dia akan mendapatkan banyak uang dan itu bisa menjadi tambang emas bagi JPM,” demikian isi email tersebut.
“Saya mengenal Anwar dengan baik, selalu dekat dengannya selama bertahun-tahun meskipun semua orang mengatakan dia sudah tamat dan tidak akan pernah kembali. Sekarang kelihatannya berbeda,” lanjut isi email itu.
Staley, yang kemudian menjabat sebagai CEO Bank Barclays, kemudian mengundurkan diri pada 2021 lalu usai otoritas Inggris memeriksa hubungannya dengan Epstein.
Tidak ada indikasi dari email yang dirilis bahwa Anwar sendiri ikut serta atau bahkan mengetahui percakapan dalam email tersebut.
Meski demikian, kemunculan namanya memicu spekulasi di media sosial Malaysia.
Media lokal melaporkan bahwa sayap pemuda partai oposisi Bersatu meminta Anwar untuk mengklarifikasi apakah pernah terjadi kontak langsung atau tidak langsung dengan Epstein dan rekan-rekannya.
Kasus Epstein menjadi isu yang sangat sensitif secara politik, baik itu di AS maupun di luar negeri.
Pekan lalu, Departemen Kehakiman AS memperingatkan bahwa sebagian dari rilis terbaru mungkin berisi materi “palsu atau tidak benar”, lantaran mencakup semua informasi yang dikirim oleh publik kepada penyidik federal, yang telah “berbuat keliru lantaran mengumpulkan terlalu banyak informasi”.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim membantah adanya keterkaitan dengan sejumlah pihak yang terlibat dalam kasus pelaku kejahatan seksual Amerika Serikat Jeffrey Epstein.
Bantahan itu muncul setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) merilis dokumen berisi pertukaran email 14 tahun lalu yang menyebut nama Anwar.
“Hari ini saya baru mengetahui ada pihak luar yang ingin bertemu dan ‘mencatut’ nama saya dalam sebuah email yang terkait dengan kasus Epstein,” tulis Anwar dalam unggahan Facebook, seperti dikutip CNA.
“Alhamdulillah, sebagaimana disebutkan dalam email itu, kejadiannya sudah lebih dari satu dekade lalu, dan saya sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan pihak-pihak yang saling berkirim email itu, terutama Epstein,” tambah dia.
Pernyataan Anwar muncul setelah sayap pemuda Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) mendesaknya memberikan klarifikasi atas dugaan keterkaitan dengan Epstein.
Dokumen itu dirilis DOJ sebagai bagian dari upaya keterbukaan terkait penyelidikan kasus Epstein.
Dalam unggahan Facebook-nya, Anwar juga menegaskan dirinya telah menjelaskan isu itu dengan menyertakan tagar #DoneExplain.
“Baiklah, saya akan melanjutkan jalan-jalan di Johor Bahru,” tulis Anwar, yang juga menambahkan emoji mual setelah menyebut nama Epstein.
Sumber: CNN