Sosok Mohamad Sobary, Ahli Kubu Roy Suryo di Kasus Ijazah, Pernah Sebut Jokowi Penerus Bung Karno

RAKYATDAILY.COM – Budayawan sekaligus mantan pendukung Presiden ketujuh RI Joko Widodo, Mohamad Sobary, hadir sebagai ahli dari kubu Roy Suryo Cs untuk memberikan keterangan kepada penyidik Polda Metro Jaya, Kamis (12/2/2026).

Kuasa hukum Roy Suryo Cs, Refly Harun, menyebut Sobary sebagai salah satu ahli tersohor yang dihadirkan bersama eks Wakapolri Oegroseno.

“Teman baik saya, dulunya termul sebenarnya, tapi sekarang sudah sadar, Mohamad Sobary,” ujar Refly.

Sebelum memberikan keterangan, Sobary menegaskan dirinya akan menjelaskan metodologi penelitian kepada penyidik.

Ia menyebut akan memaparkan proses penelitian mulai dari inspirasi, perumusan proposal, hingga instrumen penelitian.

“Secara keilmuan saya akan pertanggungjawabkan, tidak ada yang menyimpang dari kaidah,” katanya.

Sobary juga menyinggung peran Roy Suryo, dr. Tifauziah Tyassuma alias Dokter Tifa, dan Rismon Hasiholan Sianipar.

Menurutnya, ketiganya berani menyampaikan kebenaran sebagai kaum intelektual meski penuh risiko.

“Kalau mau mendebat, debatlah pada wilayah ilmu, dari wawancara hingga penulisan buku, itu wilayah bebas perdebatan,” tegasnya.

Dokter Tifa menambahkan, Sobary dikenal sebagai begawan kebudayaan dan peneliti LIPI selama puluhan tahun.

“Beliau menjadi rujukan dalam berbagai hal keilmiahan dan kebudayaan,” ujarnya.

Kehadiran Sobary menambah daftar tokoh yang dihadirkan kubu Roy Suryo Cs dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi, yang hingga kini masih bergulir di Polda Metro Jaya.

Sosok Mohamad Sobary

Mohamad Sobary, akrab disapa Kang Sobary, lahir di Bantul, Yogyakarta, 7 Agustus 1952. Ia dikenal sebagai budayawan, kolumnis, sekaligus peneliti yang kiprahnya panjang di dunia kebudayaan dan media.

Sobary pernah menjabat sebagai Pemimpin Umum Kantor Berita Antara serta Direktur Eksekutif Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Partnership for Governance Reform) hingga Juli 2009.

Kini, di usia 73 tahun, ia memfokuskan diri pada penulisan novel tentang keluarga Syalendra yang membangun Candi Borobudur.

Nama Sobary lekat dengan dunia tulis-menulis. Kolomnya masih rutin hadir di Kompas Minggu dalam rubrik Asal-Usul, yang menyoroti akar budaya dan sejarah Nusantara.

Alumni Universitas Indonesia dan Universitas Monash ini dikenal piawai meramu narasi kebudayaan dengan gaya reflektif dan tajam.

Sebagai budayawan, Sobary kerap menekankan pentingnya metodologi penelitian dalam memahami kebudayaan.

Ia menempatkan riset sebagai jalan untuk menjaga integritas ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat peran intelektual dalam masyarakat.

Kini, karya-karya Sobary terus menjadi rujukan, baik dalam bentuk tulisan maupun gagasan kebudayaan.

Fokusnya pada novel Borobudur menegaskan konsistensinya sebagai budayawan yang tak pernah berhenti menggali sejarah dan makna peradaban.

Pernah Sebut Jokowi Penerus Bung Karno

Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com, Mohamad Sobary pernah didaulat untuk naik ke panggung di alun Alun Utara Yogyakarta, Selasa (24/6/2014) sore.

Dia berorasi dalam acara “Kirab Budaya dan Deklarasi Jogja Istimewa untuk Jokowi-JK”.

Ketika itu, dia mengatakan Jokowi tidak pura-pura menjadi Bung Karno namun dia menjadi dirinya sendiri.

“Dia tidak meniru orang lain. Dia jadi dirinya sendiri dan tidak pura-pura jadi Bung Karno,” kata Sobary saat berorasi.

Dia mengungkapkan Jokowi adalah pemimpin yang lahir dari rakyat dan tidak pernah berbohong pada rakyat. Menurutnya selama hampir 500 tahun sekali ada pemimpin seperti Jokowi.

Di kesempatan itu, sejumlah tokoh seniman seperti Bramantyo Priyo Susilo dan pelukis Djoko Pekik juga berorasi di panggung.

Seniman musik seperti Sri Krishna Encik dan Marjuki atau Juki Kill the DJ dari Jogja Hip Hop Foundation juga memeriahkan acara.

Selain itu, Sobary pernah menyebut Jokowi sebagai penerus Soekarno alias Bung Karno, Presiden Pertama RI.

Berdasarkan cuplikan video di @cokroTv dikatakan Sobary “Kami tidak pandai kerja, Bung Karno punya itu keluhan macam itu. Itu dipidatokan namanya Revolusi Mental dibacakan hanya satu kali dan sesudah itu tidak pernah terulang. Karena itu dalam masa pendek sesudah itu tahun 57 beliau ya tidak pendek pokoknya Revolusi Mental dibacakan pertama kali dibacakan. Dibacakan hanya satu kali pada tahun 57 dan sebagai gagasan itu masih merupakan gagasan. Datanglah Presiden Jokowi menemukan pidato itu dan menganggap itu gagasan. Itu kebijakan pemerintah dan kebijakan itu diteruskan oleh Pak Jokowi”.

Sumber: Tribun

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY