RAKYATDAILY.COM – Nama Dadan Hindayana terus menjadi sorotan publik seiring berbagai polemik yang muncul sejak dirinya menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Dadan Hindayana lahir di Garut, Jawa Barat tahun 1967.
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1990 sebagai lulusan terbaik Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan.
Gelar Doktor (Dr. rer. Hort) ia raih dari Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz Hannover, Jerman, dalam bidang Entomologi Terapan (1997–2000), dengan publikasi ilmiah bereputasi internasional.
Sejak 1992, ia mengabdi sebagai Dosen di Departemen Proteksi Tanaman IPB dan dikukuhkan sebagai Lektor.
Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Pengembangan Institusi dan Usaha IPB, Ketua STPK Banau Halmahera Barat, dan Konsultan lintas Kementerian.
Ia dikenal sebagai akademisi, birokrat, dan penggerak transformasi kelembagaan dengan pengalaman luas di sektor pendidikan, pertanian, dan pembangunan sumber daya manusia.
Nama Dadan Hindayana terus menjadi sorotan dan kritik pedas publik seiring berbagai polemik yang muncul sejak dirinya menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan pemerintah justru diwarnai beragam kontroversi.
Mulai dari ribuan kasus keracunan, polemik anggaran, pernyataan-pernyataan yang menuai kritik luas, sampai yang terbaru.
Yakni terkait pengadaan puluhan ribu motor litrik dan anggaran Rp113 miliar untuk membayar Event Organizer.
Publik pun mempertanyakan, dengan berbagai kontroversinya, apakah Dadan Hindayana pantas mengampu jabatan sebagai orang nomor satu di Badan Gizi Nasional?
Berdasarkan data dan pencatatan, total sudah 33 ribu lebih pelajar yang jadi korban keracunan MBG di berbagai daerah.
Angka ini didapat berdasarkan hasil monitoring Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) sejak 2025 hingga awal 2026.
Dari angka tersebut, sekitar 10 persen terjadi di Jawa Barat.
Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, sepanjang Januari hingga Desember 2025, sebanyak 12.658 anak di 38 provinsi mengalami keracunan akibat menu MBG.
Sedangkan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) sempat mendesak moratorium program setelah mencatat adanya 5.626 kasus keracunan per September 2025 akibat tata kelola yang minim transparansi.
Akan tetapi BGN justru mengklaim bahwa angka keracunan akibat MBG pada September 2025 hanya mencatat adanya 45 kasus keracunan dengan total 4.711 korban.
BGN mengklaim perbaikan standar operasional terus berjalan, sehingga sejak awal Januari hingga 13 Februari 2026, mereka menyebut hanya terjadi penambahan 3 kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) di seluruh Indonesia.
Kendati angka keracunan masih tinggi, Dadan Hindayana menyebut petugas MBG sebagai pejuang republik.
“Perlu diketahui, mitra-mitra ini adalah pejuang-pejuang republik,” kata Dadan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 1 Oktober 2025.
Sementara pada 31 Desember 2025, Dadan mencanangkan zero keracunan MBG pada 2026.
Faktanya, berdasarkan catatan hingga awal April 2026, tercatat setidaknya 5.523 korban keracunan MBG di seluruh Indonesia.
Ruang Rapat Komisi IX DPR RI mendadak memanas, pada Selasa 12 November 2025.
Dadan Hindayana, menjadi sorotan utama setelah diketahui mengajukan tambahan dana sebesar Rp28,63 triliun ke Kementerian Keuangan tanpa persetujuan dari DPR sebagai mitra kerja resmi lembaganya.
Ketegangan muncul ketika anggota Komisi IX menilai langkah BGN menabrak mekanisme penganggaran negara.
DPR menegaskan, setiap lembaga atau badan di bawah eksekutif wajib mendapat persetujuan DPR terlebih dahulu sebelum mengajukan tambahan dana ke Kemenkeu.
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Melki Laka Lena, secara terbuka menegur Kepala BGN. Ia menilai tindakan tersebut bisa dianggap melewati kewenangan lembaga legislatif.
“Bagaimana bisa Anda langsung mengajukan tambahan anggaran ke Kemenkeu tanpa persetujuan kami? Ini melanggar mekanisme yang sudah diatur,” tegas Melki di hadapan forum rapat.
Dadan Hindayana pun mengakui belum memahami prosedur tersebut.
Ia berjanji akan segera mengirim surat resmi kepada Komisi IX agar pembahasan lanjutan bisa dilakukan sesuai ketentuan.
“Kami akan segera memperbaiki dan melaporkan secara resmi ke Komisi IX. Ini menjadi pelajaran bagi kami,” ujar Dadan merespons teguran tersebut.
Kontroversi Dadan Hindayana pun terjepret kamera video amatir yang memperlihatkan dirinya tengah bersantai dan bercana-canda bermain golf.
Video tersebut menyebar cepat di berbagai platform, disertai klaim bahwa adegan itu direkam di wilayah Bogor, Jawa Barat.
Informasi ini diperkuat dengan metadata yang menempel pada video.
Dalam data tersebut tercatat koordinat -6.525663°, 106.870547°, waktu perekaman 14 Desember 2025 pukul 09.12 WIB.
Hingga keterangan tambahan berupa kode “Bag 3145 West Java” berikut tipe kamera yang digunakan.
Detail yang lengkap inilah yang membuat publik semakin yakin bahwa rekaman itu bukan video lama atau hasil editan.
Yang membuatnya tambah gaduh adalah waktu kemunculannya.
Di saat Indonesia sedang berduka akibat bencana besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, aktivitas santai seorang pejabat.
Dalam klarifikasinya, Dadan mengiyakan sosok pria main golf itu benar memang dirinya.
Akan tetapi ia buru-buru menegaskan bahwa main golf itu untuk penggalangan dana bencana.
Dadan mengatakan dalam video tersebut dia berada di acara Charity Golf oleh Persatuan Golf Alumni (PGA) IPB.
Dari kumpul golf charity itu didapat total Rp450 juta untuk sumbangan bencana Sumatera.
Dadan Hindayana lagi-lagi membuat pernyataan kontroversi dengan mengungkap rasa syukur bahwa kasus keracunan MBG pada Januari 2026 menurun dibanding Oktober dan September 2025.
“Alhamdulillah, selama Januari ini tercatat sekitar 50 kali kejadian. Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan Oktober atau September,” ujar Dadan pada 10 Februari 2026.
Dadan menilai penurunan jumlah kasus tersebut patut disyukuri, terlebih di tengah peningkatan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang cukup tajam.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa masih adanya puluhan kasus keracunan menunjukkan pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.
Dadan menegaskan, target utama pemerintah ke depan adalah menekan angka kejadian hingga nol kasus.
“Padahal jumlah SPPG meningkat tajam. Dan di Januari ini alhamdulillah (kasus keracunan) masih sangat sedikit, meskipun target kita ke depan adalah tidak ada kejadian sama sekali,” ungkapnya.
Lagi dan lagi Dadan Hindayana membuat kontroversi setelah media sosial diramaikan dengan video ribuan motor listrik berlogo BGN dan MBG.
Motor listrik jenis trail itu masih berada di sebuah gudang dan dalam kondisi gress alias masih dalam plastik.
Yang membut publik bertanya lantaran sebelumnya BGN tidak pernah bersuara soal pengadaan motor listrik.
Dalam narasi video disebutkan ada setidaknya 70 ribu unit motor listrik MBG siap didistribusikan untuk Jawa Barat.
Penelusuran pojoksatu.id, motor merk Emmor itu terdapat pada website emmo.co.
Motor listrik dengan karakter serupa seperti Emmo JVX GT dibanderol sekitar Rp56,8 juta.
Motor tersebut memiliki tenaga hingga 7000 watt, mampu melaju sampai 80 km per jam, serta jarak tempuh mencapai 70 kilometer.
Yang aneh bin ajaib adalah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri mengaku tidak tahu soal pembelian motor listrik tersebut.
Setelah ramai dan viral Dadan membantah dan menyebut motor listrik MBG itu sudah masuk dalam anggaran tahun 2025
“Dan realisasinya dari target 24.400 itu hanya bisa kita realisasikan 21.800-an dan sudah masuk ke dalam anggaran 2025,” ujar Dadan saat tiba di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.
Dadan juga mengklaim bahwa motor listrik tersebut bukan motor impor, melainkan motor produksi lokal.
Dia menyebut, produksi dilakukan di fasilitas manufaktur yang berlokasi di Citeureup, Jawa Barat.
“Seluruh unit motor yang diproduksi merupakan hasil karya dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 48,5 persen,” ujar Dadan, dalam keterangan tertulis sehari kemudian.
Klarifikasi Dadan ini berbeda dengan informasi yang beredar di media sosial bahwa dugaan bahwa motor listrik BGN itu ternyata adalah motor produksi China.
Isu ini mencuat setelah konten kreator Aryo Pamungkas mengunggah video yang kemudian viral di media sosial pada Minggu (12/4/2026).
Dalam video tersebut, Aryo mengungkap temuan netizen terkait kemiripan motor listrik MBG dengan produk yang dijual di platform Alibaba.
Menurutnya, motor yang digunakan dalam program MBG memiliki spesifikasi yang sangat mirip dengan tipe Kollter ES1-X Pro.
Produk tersebut diketahui berasal dari China dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan nilai yang beredar di publik.
Aryo menyebut, motor listrik yang disebut-sebut dibanderol sekitar Rp42 juta per unit itu diduga memiliki harga asli hanya sekitar Rp8–10 juta di pasar internasional.
“Netizen menemukan motor serupa di Alibaba dengan harga sekitar Rp10 jutaan,” ungkapnya dalam video yang beredar luas, dikutip dari instagram @jogjastudent.
Terbaru adalah bocornya data anggaran bahwa BGN telah mengalokasikan Rp113,91 miliar tahun 2026 untuk membayar Event Organizer atau EO.
Anggaran ini digunakan untuk 16 paket pekerjaan sebagai kebutuhan strategis, karena lembaga baru ini belum memiliki sumber daya internal yang cukup untuk acara berskala besar.
Dadan Hindayana mengatakan, keterlibatan EO merupakan kebutuhan strategis bagi lembaganya yang masih dalam tahap awal pembentukan sistem dan tata kelola operasional.
“Sebagai lembaga baru yang dibentuk untuk menjalankan program strategis nasional tentu berada dalam fase awal pembangunan sistem, struktur organisasi, serta tata kelola operasional,” kata Dadan, Minggu 12 April 2026.
Menurutnya, dalam tahap ini, BGN belum memiliki sumber daya internal yang sepenuhnya siap untuk menangani seluruh kebutuhan kegiatan berskala besar secara mandiri.
Menurut Dadan, pelaksanaan acara, kampanye publik, dan sosialisasi nasional yang kompleks membutuhkan dukungan tenaga profesional. Dikatakan Dadan, EO dinilai memiliki keahlian untuk itu.
“Penggunaan jasa EO dalam konteks ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kegiatan dapat berjalan secara profesional, terstandar, dan tepat waktu,” ujarnya.
“EO memiliki keahlian khusus dalam manajemen acara, mulai dari perencanaan, koordinasi vendor, pengelolaan teknis lapangan, hingga mitigasi risiko operasional,” jelasnya.
“Hal-hal ini membutuhkan pengalaman dan tim yang solid yang secara realistis belum sepenuhnya dimiliki oleh BGN di fase awal pembentukannya,” katanya.
Meski Kepala BGN Dadan Hindayana selalu identik dengan setumpul kontroversi, tapi ia juga medapatkan penghargaan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Pada Jumat 13 Februari 2026 lalu, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Dadan Hindayana.
Penghargaan tersebut diberikan di sela peresmian ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta gudang ketahanan pangan.
Pemberian tanda kehormatan itu disebut sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan peran Dadan dalam pelaksanaan program MBG, yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
Perlu diketahui, dalam memberikan penghargaan bintang jasa, Presiden tentu saja tidak akan sembarangan.
Ada banyak sekali pertimbangan dan pemikiran yang mendasari seseorang dianggap berhak untuk mendapatkan bintang jasa.
Demikian juga dengan bintang jasa dari Presiden untuk Dadan Hindayana, pastinya dipenuhi dengan pertimbangan yang matang.
Jadi, bagaimana menurut kamu kinerja Kepala BGN Dadan Hindayana selama menjabat?
Silahkan mengikuti polling yang diadakan Pojoksatu.id melalui platform TikTok, Instagram dan Facebook serta berikan alasanmu.
Sumber: PojokSatu