RAKYATDAILY.COM – Sebelum mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN),
Presiden Prabowo Subianto telah banyak menerima laporan miring mengenai lembaga pemerintah nonkementerian pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut.
Prabowo kemudian memanggil Kepala Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh dan Kepala Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana.
“Waktu saya mendapat laporan-laporan itu saya panggil Kepala BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah) dan juga Kepala PPATK, dan saya panggil berapa pejabat lain, saya tanya: “Tolong saya mendapat laporan tentang BGN (Badan Gizi Nasional),” katanya pada acara Building Indonesia’s Future Generations Through Nutrition’ yang diselenggarakan di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada Rabu (3/6/ 2026).
Berdasarkan penelusuran Tribunnews, Presiden memiliki jadwal bertemu kepala BPKP dan Kepala PPATK pada Senin malam (1/6/2026) sekitar pukul 19.00 WIB di Istana Jakarta. Namun pertemuan tersebut dijadwal ulang menjadi keesokan harinya.
Pada Selasa 2 Juni Presiden kemudian bertemu dengan Kepala PPATK dan BPKP di rumah dinas Widya Chandra. Pertemuan digelar siang sebelum Presiden rapat tertutup di Wisma Danantara.
Pada pagi harinya Dadan Hindayana yang sehari sebelumnya tiba di Jakarta dari ibadah haji, masih masih sempat mendampingi Prabowo meninjau SPPG di Palmerah Jakarta.
Pada malam harinya Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari mendadak menggelar konferensi pers untuk mengumumkan pencopotan pimpinan BGN.
Pengumuman pencopotan tersebut dilakukan di Kantor Presiden tepat di bawah ruangan Presiden biasanya menggelar sidang kabinet paripurna.
Prabowo mengatakan sudah lama dirinya mendapat laporan mengenai adanya kekurangan dan penyelewengan di lembaga tersebut.
Menurut Prabowo bila lembaga atau organisasi tidak berjalan baik maka hal itu dipengaruhi oleh pimpinan.
“Dalam setiap organisasi selalu pengaruh pimpinan sangat, sangat besar. Pemimpin baik, organisasi baik. Pemimpin tidak baik, organisasi tidak baik. Apalagi pemimpin tidak bener, tidak kompeten, atau tidak jujur,” katanya.
Prabowo Subianto mengaku sedih atas keputusan mencopot Kepala BGN Dadan Hindayana serta 2 Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya.
Prabowo mengatakan ketiganya adalah pejabat kepercayaan yang disayanginya.
Prabowo mengatakan dirinya sedih harus mencopot pimpinan BGN. Apalagi orang orang tersebut sangat ia percayai dan sayangi.
“Saya tidak bisa tutupi bahwa saya dalam keadaan sedih. Karena saya terpaksa mengganti orang-orang yang saya sebenarnya saya sayangi, orang yang saya percaya, orang yang saya berikan tugas untuk negara yang sangat berat,” katanya.
Menurut Prabowo para pejabat yang diganti tersebut merupakan figur-figur yang sebelumnya sangat ia andalkan dalam menjalankan program strategis.
Karena itulah, langkah mencopot Dadan Hindayana Cs diakui Prabowo sebagai keputusan yang sangat berat.
“Orang yang saya percaya. Orang yang saya berikan tugas untuk negara yang sangat berat,” ujarnya.
Namun, hal itu terpaksa diambil demi menjaga integritas jalannya pemerintahan, terutama pada program-program krusial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Menurut Prabowo mencopot Dadan, Lodewijk Pusung dan Sony Sanjaya tidaklah mudah. Namun ia selalu mengingat pesan sang ayah yakni untuk selalu berpihak kepada rakyat apabila menghadapi situasi yang dilematis.
“Tapi saya ingat kata-kata almarhum ayahanda saya, Profesor Sumitro, pernah mengatakan kepada saya: “Prabowo, kalau satu saat kau dalam keadaan bingung atau keadaan ragu-ragu, ingat: berpihaklah selalu kepada rakyatmu,” kata Prabowo.
Sumber: Tribun