Habis Dikuliti! Pentolan PDIP Sebut Media Prancis Sukses ‘Tampar’ dan Permalukan Narasi Diplomasi Prabowo

RAKYATDAILY.COM – Politikus PDIP Guntur Romli melontarkan kritik terhadap narasi yang berkembang di dalam negeri terkait kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Paris, Prancis.

Menurutnya, pemberitaan media nasional dan akun-akun resmi pemerintah cenderung mengglorifikasi kunjungan tersebut sebagai keberhasilan diplomasi internasional, sementara sejumlah media di Prancis justru memberikan perhatian berbeda.

Guntur Romli menyoroti salah satu media berpengaruh di Prancis, Le Monde, yang menurutnya menerbitkan ulasan kritis terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo.

Ia menilai terdapat kontras tajam antara narasi yang dibangun di Indonesia dengan persepsi yang berkembang di sebagian kalangan internasional.

“Media di Indonesia dan akun-akun resmi pemerintah sangat mengagung-agungkan kunjungan Presiden Prabowo ke Paris. Tetapi di Prancis, perhatian terhadap kunjungan itu tidak sebesar yang dibayangkan, bahkan muncul kritik terhadap kebijakan ekonominya,” ujar Guntur Romli melalui pernyataan yang beredar di media sosial, Selasa (2/6/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perdebatan mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo yang belakangan mendapat sorotan dari pelaku pasar global.

Sejumlah investor dan lembaga pemeringkat internasional disebut mulai mencermati berbagai langkah pemerintah yang memperbesar peran negara dalam pengelolaan sumber daya alam dan perdagangan komoditas strategis.

Dalam laporan Reuters yang terbit pada Mei 2026, kebijakan pemerintah Indonesia untuk memperkuat kontrol negara terhadap ekspor komoditas seperti batu bara dan minyak sawit disebut memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor.

Beberapa analis internasional menilai kebijakan tersebut berpotensi menambah risiko kebijakan di tengah sentimen pasar yang sedang rapuh.

Reuters juga melaporkan bahwa nilai tukar rupiah sempat berada di bawah tekanan sepanjang 2026, sementara lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan Fitch mengubah prospek Indonesia menjadi negatif akibat kekhawatiran terhadap kredibilitas dan prediktabilitas kebijakan ekonomi pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa berbagai langkah yang ditempuh bertujuan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, dan memastikan kekayaan negara dapat dinikmati secara lebih merata oleh rakyat Indonesia.

Presiden Prabowo berulang kali menyatakan bahwa kebijakan ekonomi yang dijalankannya diarahkan untuk mewujudkan pemerataan kesejahteraan, penguatan industri nasional, serta kemandirian pangan dan energi.

Meski demikian, kritik dari kalangan oposisi terus bermunculan.

Guntur Romli menilai perbedaan cara pandang antara media Indonesia dan sebagian media asing menunjukkan bahwa keberhasilan diplomasi tidak cukup diukur dari seremoni kenegaraan atau publikasi resmi pemerintah.

Menurutnya, perhatian yang lebih penting adalah bagaimana kebijakan ekonomi Indonesia dipersepsikan oleh investor, media internasional, dan komunitas bisnis global.

“Apa yang diagung-agungkan sebagai diplomasi sukses di Indonesia, justru dilihat sebagai sumber turbulensi dan risiko ekonomi oleh sebagian kalangan di luar negeri,” tegasnya.

👇👇

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Mohamad Guntur Romli (@gunromli)

Sumber: RadarAktual

Artikel Terkait