RAKYATDAILY.COM – Polisi masih mendalami kasus dugaan penembakan rumah keluarga aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di Desa Kajar, Pati, Jawa Tengah.
Hasil pemeriksaan awal justru menemukan kejanggalan antara ukuran gotri dan lubang pada kaca.
Polisi masih menyelidiki kasus dugaan penembakan rumah keluarga aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di Desa Kajar, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Kasus tersebut sempat ramai dikaitkan dengan keberangkatan massa AMPB ke Jakarta untuk mengikuti aksi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Kamis (27/8/2026).
Sebelumnya, kaca pintu rumah tersebut ditemukan berlubang dan retak.
Di sekitar lokasi juga ditemukan sejumlah benda berbentuk gotri sehingga muncul dugaan rumah menjadi sasaran tembakan orang tidak dikenal.
Namun, hasil pemeriksaan polisi justru menemukan sejumlah fakta yang membuat dugaan tersebut masih perlu didalami.
Wakapolresta Pati, AKBP Ardyan Ukie Hercahyo mengatakan, pihaknya belum ingin menarik kesimpulan terkait penyebab kerusakan kaca sebelum seluruh barang bukti selesai diperiksa.
“Kami masih melakukan pendalaman terkait dugaan perusakan tersebut. Kami tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum seluruh hasil pemeriksaan dan alat bukti dianalisis secara menyeluruh,” ujar Ardyan dalam konferensi pers di Aula Sanika Satyawada Polresta Pati, Kamis (27/8/2026).
Peristiwa itu sendiri pertama kali diketahui oleh penguhuni rumah pada Senin (24/8/2026), sekitar pukul 10.00 WIB.
Setelah menerima informasi tersebut, Bhabinkamtibmas Polsek Wedarijaksa segera berkoordinasi dengan Satreskrim Polresta Pati untuk melakukan pemeriksaan awal.
Kemudian Tim Bidlabfor Polda Jateng menerjunkan personel untuk olah tempat kejadian perkara pada Rabu (26/8/2026), sekitar pukul 18.00 WIB.
Di lokasi kejadian, petugas mendapati kerusakan pada satu bagian kaca pintu utama serta menemukan 14 buah benda berbentuk gotri yang tersebar di beberapa titik.
Benda-benda tersebut meliputi tujuh buah di dalam rumah, empat buah di luar rumah atau depan pintu masuk, dan tiga buah ditemukan di bawah mainan anak-anak di sekitar akuarium.
AKBP Ardyan menjelaskan bahwa temuan gotri tersebut belum bisa dipastikan keterkaitannya dengan kerusakan kaca karena masih menunggu hasil konfirmasi secara ilmiah.
Temuan tersebut kemudian diperiksa oleh tim Labfor untuk mengetahui apakah gotri berkaitan dengan kerusakan kaca.
Hasil pengukuran justru menunjukkan adanya perbedaan ukuran yang cukup signifikan.
Diameter gotri yang ditemukan sekitar 6,39 milimeter. Sementara itu, lubang pada kaca berdiameter sekitar 4,6 milimeter.
“Yang kita dapatkan, lubang pecahan kaca tersebut berdiameter 4,6 milimeter, kemudian kita ukur gotri diameter 6,39 milimeter,” jelas Totok.
Perbedaan ukuran tersebut membuat polisi menyimpulkan bahwa gotri yang ditemukan tidak dapat melewati lubang pada kaca tersebut.
“Hasil lubang dan ukuran diameter gotrinya berbeda, maka gotri tersebut tidak melewati lubang tersebut,” ungkapnya.
Tim Labfor kemudian memeriksa lebih lanjut pola kerusakan pada kaca.
Dari hasil pemeriksaan sementara, ditemukan indikasi tekanan yang berasal dari bagian dalam rumah.
“Lubang bekas gotri atau sentuhan tekanan kaca terjadi pada bagian dalam rumah. Saya pelajari hasilnya lubang tersebut ada sentuhan gotri dari dalam,” papar Totok.
Meski demikian, pemeriksaan terhadap barang bukti masih terus dilakukan untuk memastikan penyebab kerusakan kaca.
Ardyan mengatakan, polisi memang menemukan adanya kerusakan pada kaca yang diduga berkaitan dengan gotri.
Namun, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan arah tekanan berasal dari dalam rumah.
“Kesimpulan sesuai fakta memang terjadi perusakan diduga menggunakan gotri. Arah gotri dari dalam rumah, bisa kita lihat kaca yang menunjukkan tekanan dari dalam. Kami perlu waktu untuk melakukan pendalaman lagi,” ujar Ardyan.
Ia juga meminta masyarakat tidak terburu-buru mengaitkan kejadian tersebut dengan aksi demonstrasi AMPB di Jakarta.
Menurutnya, hingga saat ini belum ditemukan fakta yang menunjukkan adanya hubungan antara kerusakan kaca rumah dengan aktivitas unjuk rasa.
“Belum ada hubungan konten unjuk rasa dengan kejadian tersebut,” tegas Ardyan.
Penyidik masih mengumpulkan keterangan dari korban dan saksi serta memeriksa barang bukti untuk mengetahui secara pasti penyebab kerusakan kaca.
Sebelum hasil pemeriksaan Labfor disampaikan, kasus tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran keluarga pemilik rumah.
Sri Suryati, orang tua penghuni rumah, mengaku mengetahui kaca pintu rumah anaknya sudah berlubang ketika datang pada Selasa (25/8/2026) pagi.
Saat memeriksa bagian dalam rumah, ia menemukan sejumlah gotri di dekat pintu.
Sri kemudian menduga kerusakan tersebut terjadi pada malam hari.
Kejadian itu semakin menjadi perhatian karena suami Sri diketahui ikut dalam rombongan AMPB yang berangkat ke Jakarta.
Suaminya disebut bertugas sebagai sopir rombongan Koordinator AMPB, Supriyono alias Botok.
Karena itu, keluarga sempat menduga kerusakan kaca tersebut berkaitan dengan aktivitas AMPB menjelang aksi 27 Agustus.
Namun, dugaan tersebut hingga kini belum terbukti.
Polisi memastikan penyelidikan tetap dilakukan berdasarkan fakta dan hasil pemeriksaan barang bukti di lapangan.
Kepolisian juga mengimbau masyarakat Desa Kajar tidak terpengaruh berbagai spekulasi yang beredar dan menyerahkan proses penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.