Geger Budayawan Angkat Suara: Jokowi Pernah Jadi Wong Deso, Kini Berubah Jadi Monster Menakutkan!

RAKYATDAILY.COM – Budayawan Mohamad Sobary blak-blakan mengenai sosok Presiden ke-7, Jokowi, mulai dari sikapnya menghadapi polemik ijazah hingga ambisi kekuasaan mantan orang nomor satu di Indonesia itu.

Ia menilai Jokowi tidak ingin mengalah meski menghadapi berbagai tuntutan, bahkan menyebut mantan kepala negara itu telah berubah menjadi ‘monster yang sangat menakutkan’ karena kekuasaan dan ambisi yang dimilikinya.

Sobary: Jokowi Tidak Mau Mengalah

Sobary mengatakan bahwa Jokowi tidak menunjukkan sikap ingin mengakhiri polemik yang terus bergulir.

Menurutnya, mantan Wali Kota Solo itu tetap bertahan menghadapi berbagai tudingan yang diarahkan kepadanya.

“Jokowi tidak mau kalah. Meskipun sebenarnya nalar kita mengatakan tidak mungkin ijazah ini asli,” ujar Sobary, Selasa (28/7/2026).

Ia juga menyebut Jokowi menghadapi tekanan dari berbagai arah sebab memiliki banyak musuh.

“Musuhnya Jokowi itu berlapis-lapis, tuntutan yang berlapis-lapis. Jokowi tidak mau kalah,” sebutnya.

Dalam pandangannya, perjalanan hidup Jokowi mengalami perubahan yang sangat jauh dibanding masa lalu.

Sobary menggambarkan Jokowi berasal dari latar belakang masyarakat sederhana, namun kini dinilainya telah berubah drastis.

“Duit punya dan ini sesuatu yang dilapis-lapis. Kalau Jokowi adalah Jokowi Wong Deso, mari kita tarik Jokowi sebagai orang pinggir kali. Ya otomatis miskin,” Sobary menuturkan.

“Orang pinggir kali hidup dalam kelas sosial semacam itu. Sekolahnya keteter semacam itu, segalanya parah,” tambahnya.

Namun, menurut Sobary, kondisi tersebut kini berbeda. Sebab sikap Jokowi dianggap sangat jauh berbeda dari yang dikenal sebelumnya.

“Tapi dia kan tidak seperti itu, dia sudah berubah menjadi suatu monster yang sangat menakutkan,” imbuhnya.

Ia mengaitkan perubahan itu dengan kekuasaan, kekayaan, dan ambisi politik yang dimiliki Jokowi.

“Punya duit, pernah berkuasa, pernah memiliki ambisi sangat besar. Pernah merasa dirinya megalomania. Aku orang besar,” jelasnya.

Ambisi Kekuasaan Jokowi

Sobary juga menyinggung terkait apa yang disebutnya sebagai kecenderungan megalomania.

Ia menilai hal tersebut tidak selalu tampak dari perilaku sehari-hari, melainkan dari berbagai fenomena politik yang terjadi selama kepemimpinan Jokowi.

“Tapi ditampilkan dalam wujud orang kecil-orang kecil, saya dihina-sehina-hinanya, ya modal seperti itu sosok yang tidak begitu jelas,” terangnya.

“Anda megalomania yang berlebih-lebihan, nampak pun megalomania itu. Bukan dalam tingkah laku dia, tapi megalomania dalam fenomena-fenomena-fenomena lapangan,” sambung dia.

Sobary kemudian mengaitkan pandangannya itu dengan proses politik yang mengantarkan putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, menjadi Wakil Presiden.

“Maka ketika anaknya menjadi Wapres dan menempuh segala cara. Oh dituruti megalomania ini. Hasrat berkuasa yang menggelega itu. Itu dituruti semua,” bebernya.

Kata dia, kondisi tersebut membuat Jokowi kehilangan jati dirinya.

“Dan itu membuat dia hilang dari dasar-dasar dirinya, dia lupa siapa sebenarnya dirinya,” timpalnya.

Lebih jauh, Sobary mengaitkan sikap tersebut dengan persoalan pendidikan.

“Nah lupa diri semacam itu tanda memang pendidikan tidak bagus,” cetusnya.

Ia juga melontarkan kritik kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sobary mengungkit pernyataan Gibran seusai Pilpres yang pernah merespons anggapan dirinya ‘pelongo-pelongo’.

“Anaknya itu kan tidak tahu bahwa dia bodoh. Tempo hari ingat sesudah Pilpres dia menepuk dada. Beberapa hari yang lalu saya dianggap pelonga-pelongo. Terus saya bilang, emang kamu sekarang tidak pelonga-pelongo? Memang sesudah kau menjadi wakil presiden kau tidak pelonga-pelongo? Kau tetap pelonga-pelongo,” tandasnya.

Sobary bilang, jabatan tidak otomatis mengubah kapasitas seseorang.

“Orang yang berpikir tentang kapasitas akademik tetap kau pelonga-pelongo. Biar kau jadi apapun kau pelonga-pelongo. Tidak akan berubah,” tandasnya.

“Ketololan tetap ketololan. Tidak berubah. Banyak Bung di Republik ini kalau kita berjalan di jalan gitu untuk mencari orang yang diatasnya Wapres,” kuncinya.

Artikel Terkait