RAKYATDAILY.COM – William Tinting (25), salah satu calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), masih mengingat betul proses panjang yang harus dilaluinya sebelum akhirnya mengenakan seragam loreng dan mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta Selatan.
Pria asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, itu mengaku mendaftar menggunakan domisili Jakarta, tempat ia merantau dan bekerja selama dua tahun terakhir sebagai karyawan perusahaan swasta.
“Saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Sebelumnya saya mengurus manajemen aset perusahaan,” kata William saat ditemui di lokasi pelatihan, Rabu (25/6/2026).
Lulusan Akuntansi Universitas Atma Jaya Makassar itu mengatakan, proses seleksi calon pengelola Kopdes Merah Putih dimulai dari pendaftaran daring dengan mengunggah berbagai dokumen persyaratan.
Tahap berikutnya adalah tes berbasis Computer Assisted Test (CAT) yang digelar di kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN) Jakarta Pusat.
William mengaku tidak berada di peringkat teratas saat pengumuman awal hasil seleksi.
Namun, setelah sejumlah peserta yang lolos memilih mengundurkan diri, peserta di bawahnya dipanggil untuk mengisi kuota yang kosong.
“Saya bukan yang di peringkat atas saat pengumuman pertama. Tetapi karena ada peserta yang mengundurkan diri, posisi saya naik dan akhirnya dinyatakan lolos mengikuti program ini,” ujar William.
Setelah CAT, peserta mengikuti tes mental ideologi yang terdiri dari ujian tertulis dan wawancara, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU).
Dalam tes mental ideologi tertulis, peserta mengerjakan ratusan soal yang menurutnya mirip psikotes.
“Ratusan soal, soalnya kadang berulang. Mungkin untuk melatih daya ingat peserta kali ya. Soalnya banyak soal yang diulang dan biasanya kalau soal yang berulang itu jawabannya pasti kadang berubah lagi,” kata dia.
Salah satu pertanyaan yang masih diingat William adalah tentang tindakan yang akan dilakukan ketika melihat pencuri.
“Kalau saya menjawab melaporkan ke pihak berwajib,” kata dia.
Sementara dalam sesi wawancara, peserta ditanya kembali mengenai jawaban yang telah mereka tulis sebelumnya, termasuk pandangan mengenai Pancasila.
“Ditanyain seputar Pancasila ya. Apakah Pancasila menurut Anda, apakah Pancasila masih relevan dengan budaya zaman sekarang? Dan saya jawab, ya. Pancasila adalah ideologi negara kita,” ucap dia.
Untuk pemeriksaan kesehatan, William menjalani tes di rumah sakit kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Ia mengaku pemeriksaan dilakukan cukup perinci.
Peserta menjalani pengukuran tinggi dan berat badan, pengambilan sampel darah dan urine, pemeriksaan jantung menggunakan EKG, hingga rontgen paru-paru.
Setelah dinyatakan lolos, William bergabung dengan ratusan peserta lainnya di Brigif 1 Marinir Cilandak.
Meski pembukaan pendidikan baru dilaksanakan pada 17 Juni, sebagian besar peserta sudah datang sejak 14 Juni untuk registrasi ulang, pembagian perlengkapan, dan penempatan barak.
Selama mengikuti Latsarmil, rutinitas hariannya dimulai sejak dini hari.
“Kami bangun pagi jam 03.30 WIB. Kemudian bersih-bersih mempersiapkan diri untuk olahraga pagi di lapangan ini. Nah, setelah itu, sekitar 05.30 WIB, kami mempersiapkan diri untuk mengganti seragam ini (loreng). Soalnya seragam olahraga itu beda. Nah kemudian kami diarahkan untuk makan pagi,” ujar dia.
William mengaku bangga saat dia makan dengan cara yang menurutnya berbeda dalam kehidupan sehari-hari.
“Karena kalau kami makan itu kami harus teratur per barisnya. Itu menandakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus teratur dan berjalan dengan baik agar apa yang dilaksanakan nanti juga hasilnya baik seperti itu,” kata dia.
Usai sarapan, para peserta mengikuti apel pagi sebelum memasuki sesi pembelajaran di kelas pukul 08.30 WIB.
Menurut William, salah satu pelajaran yang paling berkesan adalah materi mengenai kepemimpinan dan pengelolaan organisasi.
Ia juga mendapatkan materi mengenai pengamanan data yang dinilai relevan dengan tugasnya sebagai calon manajer koperasi.
“Itu pelajarannya itu sangat apa? Sangat baru untuk saya karena saya baru mengenal tentang pelajaran semi-militer. Ya di mana ini masuk ke dalam apa yang mau dikerjakan nanti,” ujar dia.
“Karena ini baru berjalan satu minggu ya, ada yang relevan itu terkait pengamanan. Nah di situ kami kemarin diajarkan soal pengamanan data, cara memimpin sebuah organisasi, dan bagaimana mengatur memanajemen setiap anggota,” tambah dia.
Aktivitas pelatihan berlangsung hingga malam hari.
Menurut William, kegiatan biasanya berakhir sekitar pukul 21.00 hingga 21.30 WIB.
Meski jadwal cukup padat, ia mengaku masih mampu mengikutinya karena terbiasa berolahraga.
Namun, ia melihat sejumlah peserta lain mengalami kelelahan dan harus menjalani perawatan di pos kesehatan.
“Kalau dari yang lain, saya kurang paham, cuma dari berjalannya waktu sudah banyak yang mengalami kelelahan, capek, sakit. Tapi soal penanganannya kesehatan di Marinir ini sangat tanggap. Selalu memperhatikan setiap peserta yang sakit seperti itu,” imbuhnya.
Menurut dia, peserta yang merasa sakit dapat melapor kepada ketua peleton atau komandan peleton sebelum dibawa ke pos kesehatan dengan didampingi rekan lainnya.
Saat ditanya mengenai alasan mengikuti program tersebut, William mengaku bukan karena persoalan gaji atau kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Ia mengatakan pekerjaan sebelumnya sebenarnya sudah cukup nyaman.
Namun, kesempatan menjadi manajer Kopdes Merah Putih dianggap sebagai tantangan baru sekaligus bentuk pengabdian kepada negara.
“Karena saya melihat suatu posisinya yang di mana menawarkan tantangan yang sangat luar biasa, jadi manajer koperasi kan. Saya ingin menantang diri saya sejauh mana saya bisa mencapai kepemimpinan di atas nama manajer itu, Bang,” pungkas dia.
Komandan Batalyon Latihan SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, mengatakan peserta yang memiliki riwayat penyakit tidak dilibatkan dalam kegiatan fisik selama mengikuti Latsarmil.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan setelah muncul kabar meninggalnya tiga peserta pelatihan serupa di satuan pendidikan lain.
“Kami bersama pelatih sudah mendengar berita duka yang menimpa rekan kita yang di Satdik lain. Sebagai penanganan dan pencegahan kami, yang pertama saat masuk, kami cek kesehatan mereka, tensi, dan kondisi fisik,” ujar dia.
“Kemudian setelah kita rekap, data-data yang memiliki riwayat kronis atau sakit berat kita pisahkan sampai dengan tingkat Peleton dan Kompi. Supaya kegiatan-kegiatan di lapangan yang berkaitan dengan fisik tidak kita ikutkan,” tambah dia.
Menurut Agus, peserta dengan riwayat penyakit tetap mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi tidak diikutsertakan dalam kegiatan lapangan yang membutuhkan kemampuan fisik.
Saat ini, sebanyak 674 calon manajer Kopdes Merah Putih mengikuti Latsarmil di Brigif 1 Marinir.
Mereka dibagi ke dalam empat kompi yang masing-masing terdiri atas enam peleton.
Agus menjelaskan, kegiatan peserta dimulai sejak pukul 04.30 WIB hingga pukul 21.30 WIB setiap hari.
Peserta diawali dengan ibadah subuh, olahraga dan pembinaan fisik, sarapan, apel pagi, latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB), serta pembelajaran di kelas hingga sore hari.
Setelah itu, peserta masih mengikuti sesi pengasuhan yang berisi pembentukan karakter, pengenalan lingkungan, etika, kedisiplinan, hingga latihan kekompakan melalui yel-yel kelompok.
“Pengasuhan adalah pemberian bekal-bekal. Salah satunya mungkin pengenalan lingkungan, kemudian etika selama di sini, sikap PBB, dan sebagainya. Termasuk bekal-bekal keseragaman dan kekompakan,” kata dia.
“Kita ajari yel-yel supaya mereka juga punya semangat untuk menyongsong kegiatan dari sehari-harinya,” tambahnya.
Selain materi kedisiplinan dan pembentukan karakter, peserta juga mendapatkan sejumlah kemampuan dasar kemiliteran, seperti PBB dan pengenalan medan.
Pada minggu ketiga pelatihan, peserta juga dijadwalkan mengikuti latihan menembak perorangan.
“Jadi mereka punya dasar-dasar militer yang sekiranya bisa buat bekal dalam menuju penugasan berikutnya,” ucap dia.
Agus mengatakan sistem reward dan punishment juga diterapkan selama pelatihan berlangsung.
Peserta yang melakukan pelanggaran ringan, seperti terlambat mengikuti apel pagi, dapat dikenai hukuman fisik ringan berupa push up sebanyak 10 hingga 15 kali.
Namun, ia menegaskan hukuman yang diberikan tidak disamakan dengan standar pendidikan militer bagi prajurit.
“Hanya pembinaan fisik supaya mereka mengingat bahwa hal itu tidak bisa atau tidak boleh dilaksanakan,” tegas Agus.
Terkait penanganan kesehatan, Agus memastikan setiap kompi memiliki jalur pelaporan berjenjang apabila ada peserta yang sakit.
Peserta terlebih dahulu melapor kepada komandan peleton, kemudian diteruskan kepada komandan kompi hingga komandan batalion latihan.
Selain itu, ambulans dan tenaga kesehatan selalu disiagakan selama kegiatan berlangsung.
Jika kondisi peserta tidak dapat ditangani di fasilitas kesehatan Brigif 1 Marinir, mereka akan dirujuk ke Rumah Sakit Marinir Cilandak.
“Namun apabila dari Peleton Kesehatan (Tonkes) atau dokter kami tidak mampu menangani, sudah disiapkan rumah sakit terdekat, yaitu Rumah Sakit Marinir Cilandak yang akan segera melakukan penanganan, rawat inap, dan sebagainya. Jadi proses kami tetap berjenjang,” jelas dia.
Ia juga mengungkapkan terdapat beberapa peserta yang memiliki riwayat penyakit seperti asma, hipertensi, pascapatah tulang, dan riwayat tuberkulosis yang telah dinyatakan sembuh.
Menurut Agus, tujuan utama Latsarmil bukan untuk menjadikan peserta sebagai prajurit, melainkan membentuk karakter calon manajer yang nantinya akan ditempatkan di wilayah penugasan.
Ia menilai disiplin, integritas, loyalitas, empati, dan kekompakan yang ditanamkan selama pelatihan akan menjadi bekal penting saat peserta menjalankan tugasnya di masyarakat.
Ia menjelaskan, setelah menyelesaikan Latsarmil, para peserta akan mengikuti pembelajaran lanjutan dari kementerian terkait yang berisi materi manajerial serta teknis pengelolaan koperasi.
Sumber: Kompas