Sudah tujuh bulan berlalu sejak ia dilaporkan hilang di Tanah Suci, namun upaya pencarian intensif yang dilakukan pemerintah Indonesia belum membuahkan hasil yang pasti.
Sukardi merupakan satu dari tiga jamaah haji asal Indonesia yang hingga kini masih dinyatakan hilang.
Ia tergabung dalam kloter 79 Embarkasi Surabaya dan terakhir diketahui berada di Mekkah pada 29 Mei 2025, beberapa hari sebelum puncak pelaksanaan ibadah haji.
Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang, Abdul Salam, membenarkan bahwa Sukardi adalah warga Kecamatan Kepanjen.
Sejak dinyatakan hilang, berbagai langkah pencarian telah dilakukan, mulai dari penyisiran rumah sakit, hotel, hingga koordinasi lintas lembaga di Arab Saudi.
Namun, hingga kini Sukardi tak kunjung ditemukan, hidup ataupun meninggal.
Harapan baru sekaligus duka mendalam muncul setelah adanya informasi penemuan sejumlah jasad tanpa identitas di Arab Saudi yang memiliki ciri-ciri orang Asia.
Temuan itu membuat Kementerian Agama RI meminta keluarga Sukardi untuk menjalani tes DNA guna memastikan kemungkinan kecocokan identitas.
Abdul Salam menegaskan, Di Arab Saudi ditemukan beberapa mayat tanpa identitas dari Asia.
“Mungkin ini ikhtiar terakhir karena pencarian selama ini belum menemukan hasil,” ujar Abdul Salam, dikutip dari Detik, 20 Desember 2025.
Pengambilan sampel DNA dilakukan di Rumah Sakit Haji Surabaya oleh tim dokter forensik Mabes Polri.
Sampel tersebut nantinya akan dikirim ke Arab Saudi untuk dicocokkan dengan data DNA jenazah yang ditemukan.
“DNA keluarga ahli waris diambil untuk dibawa ke Arab Saudi. Mudah-mudahan ada titik terang, meski kita semua berharap hasil terbaik,” lanjutnya.
Abdul Salam menegaskan, hingga kini belum ada kepastian apakah salah satu jasad tersebut adalah Sukardi.
Proses identifikasi masih berjalan dan memerlukan waktu.
Di tengah ketidakpastian itu, pihak keluarga disebut terus menjalin komunikasi dengan Kemenag Kabupaten Malang.
Setiap perkembangan, sekecil apa pun, selalu disampaikan kepada ahli waris.
“Keluarga bisa menerima dengan ikhlas, dengan kesabaran. Kami terus mendampingi mereka secara psikologis dan administratif,” kata Abdul Salam.
Kasus hilangnya Sukardi kembali menyorot lemahnya pengawasan terhadap jamaah lanjut usia selama ibadah haji.
Sukardi diketahui sempat meninggalkan rombongan tanpa diketahui secara pasti alasannya. Sejak saat itu, jejaknya menghilang.
Hingga kini, publik masih menanti kepastian nasib Sukardi. Apakah ia akan ditemukan dalam kondisi selamat.
Ataukah keluarga harus menghadapi kenyataan pahit setelah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian.