RAKYATDAILY.COM – Kader PDIP Mohammad Guntur Romli menyoroti kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Paris, Prancis. Dia menyebut media dan pendengung di Indonesia terlalu mengglorifikasi.
“Media di Indonesia dan akun resmi pemerintah, Setneg, serta ribuan buzzer pro pemerintah. Sangat mengglorifikasi kunjungan kenegaraan Prabowo ke Paris dengan narasi kemenangan diplomasi,” kata Gun Romli dikutip dari unggahannya di Instagram, Senin (1/5/2026).
Di saat media di Indonesia mengglorifikasi, Gun Romli membandingkannya dengan di Prancis, yang menurutnya nyaris terabaikan.
“Foto-foto megah, dan pemberitaan berlebihan. Media Prancis justru hampir mengabaikannya,” ucap Gun Romli.
Dia memberi gambaran. Bagaimana salah satu media berpengaruh di Prancis, Le Monde, hanya menyentil nama Prabowo dalam liputannya.
“Le Monde, salah satu koran paling berpengaruh di Prancis, tidak menerbitkan satupun artikel mendalam tentang pertemuan Prabowo dengan Presiden Emmanuel Macron,” papar Gun Romli.
“Hanya ada mention singkat dalam liputan sampingan, mendandakan bahwa Paris tidak menganggap pertemuan tersebut sebagai peristiwa strategis yang istimewa atau layak dapat sorotan utama,” sambungnya.
Bagi Gun Romli, hal tersebut menunjukkan respons yang kontras.
“Realitas ini mendapatkan kontras yang sangat tajam dengan uephoria buzzer pemerintah di Jakarta, dan sikap acuh tak acuh Paris,” imbuh Gun Romli.
Gun Romli menyentil bagaimana Prabowo sebenarnya, bahkan dikritik oleh Le Monde.
“Kontras tersebut makin diperparah, ketika Le Monde justru menerbitkan krtitik keras terhadap kebijkakan ekonomi Prabowo. Hanya beberapa hari sebelum kunjungan melalui artikelnya,” ucapnya.
Saat itu, Le Monde melalui artikelnya merilis berita bahwa terjadi turbulensi ekonomi imbas kebijakan Prabowo.
“Artikel tersebut membuka dengan nada tegas bahwa, intervensi Presiden Prabowo memicu gejolak di pasar. Le Monde menyoroti keputusan Prabowo pada 20 Mei 2026, yang menyerahkan pengendalian ekspor nikel, minyak kelapa sawit CPO, dan batu bara kepada perusahaan negara,” jelasnya.
Hal tersebut, berdampak pada modal asing yang dicabut dari Indonesia.
“Kebijakan Presiden Prabowo tersebut langsung memicu pelarian modal asing secara besar-besaran,” imbuhnya.
Gaya memimpin Prabowo juga disorot. Dianggap menunjukkan kekuasaan yang terpusat.
“Media Prancis itu juga mengggambarkan, Presiden Prabowo sebagai mantan jenderal berusia 74 tahun, yang mengambil alih langsung pengumuman kebijakan di depan parlemen. Sebuah gaya sentralisasi kekuasaan, yang dianggap menciptakan ketidakpasitian bagi investor,” jelasnya.
Semua hal tersebut, bagi Gun Romli, menunjukkan lebarnya persepsi media di Indonesia dengan di Prancis.
“Realitas ini mengungkap jurang perspsi lebar. Apa yang diagungkan sebagai diplomasi sukses di Indonesia, justru dilihat sebagai sumber turbulensi dan risiko ekonomi di Prancis,” pungkasnya.
👇👇
Baca Juga:View this post on Instagram
Sumber: Fajar