RAKYATDAILY.COM – Peneliti kebijakan publik yang juga ekonom dan akademisi di Universitas Gadjah Mada, Media Askar Wahyudi menyampaikab pendapatnya soal program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dia memberikan sorotan tajam terkait program utama dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini.
Sorotannya itu terkait MBG yang hadir sebagai salah satu program untuk melakukan penanganan stunting di Indonesia.
Nyatanya, itu justru berbandingan terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Di berbagai daerah, Media Askar bicara soal data.
Ada beberapa daerah yang disebut mengalami kasus stunting dengan persenan yang cukup tinggi.
Namun berbanding terbalik dengan hadirnya SPPG sebagai penyaluran program MBG yang disebut sebagai solusi untuk masalah ini.
“Kalau kita lihat data, stunting paling besar itu Papua Pegunungan 40 persen, berapa jumlah SPPG disana? 13,” katanya.
“Sulawesi Barat stunting itu 35 persen jumlah SPPG disana itu 177. Jawa Barat stunting hanya 15 persen, jumlah SPPG disana 6357,” sebutnya.
“Jadi anggapan bahwa ini adalah program penanganan stunting, jadi nggak masuk dengan data hari ini,” sambungnya
Lebih jauh, Media Askar Wahyudi memberikan pandangan soal isu yang membuat banyak masyarakat yang mendukung program MBG ini.
Nyatanya hal ini disebutnya tidak didukung dengan hasil riset. Di mana, tidak ada riset referensi publik yang bicara soal pernyataab tersebut.
“Saya mau respon juga soal anggapan masyarakat mendukung MBG, saya mungkin kalau mau undang cara melakukan riset preferensi publik,” paparnya.
“tidak bisa kita hanya tanyakan “kamu suka nggak dengan MBG?” nggak bisa ada metodologinya,” tuturnya.
Ia pun sebaiknya Pemerintah sebelum memberikan program dan melakukan klaim ada baiknya menurutnya lebih dulu bertanya langsung ke masyarakat.
Ini berkaitan dengan apa yang diinginkan dan apa yang dibutuhkan.
Atau lebih tepatnya menggunakan metode dicrete choice method.
Yang dimana, Pemerintah hadir untuk memberikan penawaran soal apa yang bisa diberikan dan biarkan masyarakat menentukan pilihannya.
“Karena seandainya masyarakat ditanya dapat makanan tentu lebih baik dari pada tidak sama sekali,” jelasnya.
“itu kenapa yang harus dilakukan adalah dicrete choice method. tawarkan kepada mereka apa yang bisa dilakukan dan biarkan mereka memilih,” terangnya.
Sumber: Fajar