GEGER! FX Rudy Terang-Terangan Bongkar Rahasia Mobil Esemka: Bukan Gagasan Jokowi, Cuma Impor Rangkaian Cina

Signature: Uegl0qUf+hVs5DMUvTlXm7PS1C374Ghxta60reNlwJSSoxbkS6QMT70BKX9Z9lfNB7uX81cOXK2Xvu/16+7b/TMdfKq/MVEBbBAbDrf8UOrPf6BKLZPLOGqk6l0KauX44pP9OC+L7rAOSUfZB9dvF4DHH+H4OStSsTxvuMJTvXVMGd3PwrPRu5RGGm7XhBDc3Hh0X931y/mt9qo8eja1a9hdTc0bTYOmdlIAQIBcvQ+egqOcVRPtcH7iaFzlMNGNYfdSgdnr1HN3vkIKOvEmoBJr+vPmhFMPbYR0PxRfNuZmwkAISKOx3RS86dueChwY528eIe4V0EwzYSea6lJ0O6do2diju9GUzHZQSZ7V3e2BDliNwcE0nf1fb9o0ItVrh4M1xptm92XAOOgETE2a69aJ0nH+bwoQgRZA6ltDlURCWBLtlKmBRpmeJ5eD+nDuJT9zIq92HlIPw8y02I0yhV2dX3I5f4GoRPnNAN5XI5AmdPUeY1VyYhjAH5VqfXqOao2P/uhqEaOx5JZkEcFaXHnz1wk8/kf4kApYCfOkx5t235mYmUYVx+/WEUVijhdZDT6XTuZlYsuoCDQfMsM9+fudwMs8il42DGKxFuSJm2ABZCVtqLenA8kDmLuifnnQoPaWJQtSKB8C7B8wbSVR5sW3hBsI7i6pUJofmnuJoNLZQIODNC5FNuu494MDnV5HlKQy4vooLSI0NJEAzwjGImzjxVMYdpq+/JuQYTtFSNo+xFi0ahWIwsBOtGHbYtz41hzjdV25Bb0h/+5kUNOaMlys8xkQoaSBYb7jE4jQFjXr74zALjxjFmp87cLFhzRgm3RUH06CTb5TTN4RKxEItI3ftoVGUFtbJaIEa5MXCWK9dYlJvIbPone+jkT1nrz18AL2lcJ48UFAi0l6b/eWKcuXYTJpm/jgCxsDIR1KgOA8Mu3MP8DEIaLiQIRB+lakldcg3QcdPeMMHM6tn2t7ym8l4SuLkF3hpZdLfkthNYg=

RAKYATDAILY.COM – Selama lebih dari satu dekade, mobil SMK, yang kemudian populer dengan sebutan Esemka, dijadikan salah satu simbol kepemimpinan inovatif Joko Widodo.

Cerita tentang wali kota Solo yang turun tangan merancang mobil nasional bersama siswa SMK berhasil mengantarkan popularitas Jokowi melesat dari tingkat kota ke panggung nasional.

Orang yang paling mengetahui proses di balik pembuatan mobil tersebut, FX Hadi Rudyatmo, mantan Wakil Wali Kota Solo sekaligus pendamping Jokowi selama dua periode (2005–2012), membongkar semua fakta.

Dalam wawancara eksklusif di podcast Akbar Faizal Uncensored di Jakarta, Senin (27/7/2026), Rudy menegaskan bahwa mobil tersebut sama sekali bukan gagasan atau karya Jokowi.

“Itu mobil pendidikan,” katanya tegas.

Menurut Rudy, asal-usul mobil SMK sangat sederhana.

Kendaraan tersebut merupakan program dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diperuntukkan bagi siswa SMK untuk praktik, bukan hasil riset atau inovasi Jokowi.

“Mobil SMK itu sebetulnya mobil pendidikan yang dipakai oleh anak-anak siswa sekolah SMK ini untuk praktek. Lah waktu itu mobil SMK itu panjang sasisnya sama Pak Joko Sutresna, itu mobil dipotong oleh namanya Kiat, itu tukang cet sebetulnya,” papar Rudy.

Mobil tersebut didatangkan dari Cina, lalu sasisnya dipotong dan dicat ulang di bengkel lokal.

Bahkan, dalam percobaan pertama, mobil tersebut tidak lolos uji emisi dan harus menjalani perbaikan.

Fakta ini tidak banyak yang membicarakan dan bertahan selama bertahun-tahun.

Proses modifikasi itu sama sekali tidak melibatkan Jokowi secara teknis.

Rudy menjelaskan bahwa mobil itu hanya ditempeli stiker “SMK” dan digunakan sebagai kendaraan dinas wali kota dan wakil wali kota dengan nomor polisi AD 1 dan AD 2.

“Itu kita pasang adik satu dan adik dua untuk mobil SMK itu sendiri,” ujarnya.

Namun, narasi berbeda dengan cepat dibangun oleh tim komunikasi Jokowi.

Ketika mobil tersebut mulai menarik perhatian publik, tiba-tiba muncul klaim bahwa sang wali kota adalah penggagas utama proyek mobil nasional.

“Lah, kenapa dengan diam-diam saja waktu dia melakukan kampanye itu? Loh saya gak ngerti,” kata Rudy menandaskan rasa kecewanya atas pencitraan yang dibangun di atas kerja keras orang lain.

Tidak hanya itu, perjalanan mobil SMK ke Jakarta untuk uji emisi pun dilakukan oleh Rudy, bukan Jokowi.

“Dan saya memanfaatkan waktu itu Roy Suryo yang waktu itu kan jadi menpora. Itu kita ajak sampai ke Serpong untuk mencari uji emisi gas buang,” kenang Rudy.

Pengakuan ini menguatkan pernyataan Roy Suryo yang sebelumnya pernah mengklaim bahwa dirinyalah yang menyetir mobil SMK ke Jakarta, sementara Jokowi hanya sebagai penumpang.

Lukisan heroik tentang Jokowi yang membawa langsung mobil karyanya ke ibu kota pun runtuh oleh fakta ini.

Kekecewaan FX Rudy memuncak bukan hanya karena pencitraan, tetapi juga karena kebijakan Jokowi setelah menjadi presiden.

Rudy mengungkap bahwa di Solo Technopark, mereka sudah membangun komunikasi dengan produsen otomotif dari Jerman dan Korea untuk mengembangkan mobil tersebut.

Namun, tiba-tiba Jokowi memutuskan menggandeng Proton, pabrikan asal Malaysia.

“Kita tuh sebetulnya sudah pernah kerjasama, mau sudah komunikasi dengan Jerman dan Korea sebetulnya. Di Solo Technopark. Begitu mereka mau kerjasama dengan Proton, ya saya lebih baik marah. Jokowi lupa atas apa yang menjadi bahan pembicaraan tentang mobil SMK itu sendiri,” ujar Rudy dengan nada getir. Akibat kekecewaan itu, ia memilih mundur dari kepengurusan proyek SMK.

Bagi Rudy, kejadian ini menjadi bukti bahwa Jokowi dengan sengaja membangun narasi kepahlawanan di atas kerja keras orang lain.

“Saya ini orang yang tidak pernah mau membalas apapun yang menjelek-jelekkan saya. Kenapa? Ya biarkan aja. Semua Tuhan yang mengetahui. Saya selalu sampaikan bahwa Tuhan tidak tidur,” pungkas Rudy dengan nada filosofis.

Ia menyatakan tidak takut dengan konsekuensi pengakuannya, karena ia menyaksikan semua fakta secara langsung dari jarak nol.

Artikel Terkait