RAKYATDAILY.COM – Manajemen Danone Indonesia akhirnya angkat bicara menanggapi kegaduhan di media sosial terkait kemunculan visual balita pada kemasan air minum dalam kemasan (AMDK) Aqua.
Perusahaan menegaskan bahwa narasi yang berkembang di publik selama ini muncul akibat potongan informasi visual yang tidak utuh.
Setelah dilakukan penelusuran, gambar balita tersebut ternyata bukan bagian dari label utama botol, melainkan komponen dari label sekunder (secondary label) yang hanya ditemukan pada kemasan bundling.
Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, mengklarifikasi bahwa visual yang viral tersebut tidak berdiri sendiri.
Gambar itu merupakan bagian dari desain kemasan luar (outer pack) untuk paket distribusi isi 6 botol Aqua ukuran 1500 ml.
“Visual yang dimaksud merupakan bagian dari secondary label pada kemasan bundling. Ini adalah informasi tambahan pada kemasan luar untuk identifikasi produk paket, bukan label utama yang tertempel di setiap botol,” tegas Arif dalam keterangan resminya, Senin (20/4/2026).
Arif menjelaskan, jika label tersebut dilihat secara menyeluruh, visual tersebut sebenarnya menampilkan ilustrasi keluarga secara utuh.
Namun, pemotongan visual (cropping) oleh oknum di media sosial membuat persepsi publik seolah-olah balita menjadi objek tunggal pada kemasan tersebut.
Aqua juga menepis spekulasi yang menyebut produk tersebut ditujukan khusus untuk bayi atau balita.
Perusahaan menegaskan bahwa produk mereka masuk dalam kategori pangan umum dan seluruh label utamanya telah lulus sensor serta sesuai dengan regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Tidak ada klaim bahwa produk ini khusus untuk bayi. Seluruh informasi pada kemasan utama telah mengikuti ketentuan BPOM. Label sekunder dibuat murni dalam konteks teknis penjualan bundling,” tambah Arif.
Menanggapi fenomena ini, sejumlah pengamat komunikasi menilai kasus Aqua menjadi contoh nyata betapa berbahayanya “potongan informasi” di era digital.
Narasi yang dibangun dari visual yang tidak utuh dinilai dapat memicu disinformasi masal yang merugikan produsen maupun konsumen.
Meskipun demikian, Aqua menyatakan telah melakukan peninjauan internal menyeluruh terhadap seluruh materi komunikasi produknya.
Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap prinsip perlindungan konsumen dan etika komunikasi yang bertanggung jawab.
“Kami menghargai masukan dari masyarakat dan terus berkomitmen menjaga kepercayaan publik melalui praktik komunikasi yang transparan dan patuh regulasi,” tutup Arif.
Sumber: Fajar