MERINDING! Korban Bawaslu Berdarah 2019 Bongkar Kesaksian Mencekam: “Kita Benar-Benar Mau Dihabisi Jokowi”

RAKYATDAILY.COM – Mantan tahanan politik 2019, Akbar Husein, membuka kembali ingatan tentang kerusuhan 21–22 Mei 2019 di depan kantor Badan Pengawas Pemilu, Jakarta Pusat.

Dalam podcast Forum Keadilan TV bersama sejarawan Indra J Piliang, ia mengklaim penanganan aparat saat aksi penolakan hasil Pemilu 2019 berlangsung represif dan meninggalkan luka panjang bagi para peserta aksi.

Akbar mengaku menjadi bagian dari massa pendukung Prabowo Subianto yang menolak hasil Pilpres 2019 setelah Komisi Pemilihan Umum menetapkan pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai pemenang.

Ia menyebut aksi massa kala itu berlangsung besar dan terkoordinasi.

Menurutnya, ribuan orang berkumpul di kawasan Thamrin hingga Sarinah untuk menekan Badan Pengawas Pemilu agar membatalkan keputusan hasil pemilu.

“Waktu itu suasana sudah siaga satu. Helikopter meraung-raung di atas Sarinah, gas air mata ditembakkan sejak sore, lalu bentrokan pecah tengah malam,” ujar Akbar dalam tayangan tersebut.

Dalam wawancara itu, Akbar juga menyebut sejumlah tokoh aktivis dan purnawirawan yang disebut hadir dalam koordinasi gerakan, di antaranya Jumhur Hidayat, Fadli Zon, Kivlan Zen, hingga Slamet Soebijanto.

Akbar mengaku dirinya ditangkap beberapa bulan setelah kerusuhan.

Ia mengatakan dirinya bersama sejumlah rekannya dijerat perkara makar dan bahan peledak.

Dalam keterangannya, ia mengklaim mengalami pemukulan hingga penyetruman saat pemeriksaan berlangsung.

Klaim tersebut merupakan pengakuan pribadi narasumber dan belum diverifikasi secara independen melalui putusan pengadilan maupun keterangan resmi aparat penegak hukum.

Ia juga menceritakan kondisi tahanan yang disebutnya penuh sesak.

Menurutnya, sejumlah tahanan mengalami luka serius, bahkan ada yang meninggal dunia setelah menjalani proses hukum dan penahanan.

Salah satu nama yang disebut Akbar adalah Muliono Santoso yang dikatakannya wafat saat menjalani masa tahanan di Lapas Pemuda Tangerang.

Ia juga menyebut nama Insanul Kamil Burhanuddin yang disebut meninggal setelah proses hukum berjalan.

Dalam percakapan tersebut, Akbar berkali-kali melontarkan kritik keras kepada Joko Widodo.

Ia menilai pemerintah saat itu memperlakukan kelompok oposisi sebagai musuh politik.

“Jokowi itu gila. Biadab banget. Kita benar-benar mau dihabisin,” ujar Akbar. Pernyataan itu disampaikan sebagai opini dan pengalaman pribadi narasumber dalam podcast.

Kerusuhan 21–22 Mei 2019 sendiri menjadi salah satu peristiwa politik paling besar pasca-Reformasi.

Aksi yang bermula dari penolakan hasil pemilu berubah menjadi bentrokan di sejumlah titik di Jakarta.

Pemerintah ketika itu menyatakan aparat bertindak untuk mengendalikan situasi keamanan dan mencegah kerusuhan meluas.

Podcast Forum Keadilan TV tersebut kembali memunculkan perdebatan lama mengenai penanganan aksi massa, dugaan pelanggaran HAM, hingga relasi politik pasca Pemilu 2019 yang masih menyisakan trauma bagi sebagian kelompok pendukung oposisi.

[FULL VIDEO]

Sumber: Herald

Artikel Terkait