RAKYATDAILY.COM – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) akhirnya angkat bicara meluruskan drama seleksi Calon Paskibraka (Capaska) tingkat nasional perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel) atau Paskibraka Sulsel 2026 yang lagi viral di lini masa.
BPIP mengklaim seluruh proses penyaringan peserta berjalan profesional, transparan, dan objektif.
Pernyataan resmi ini dikeluarkan guna merespons riuhnya tudingan netizen terkait gagalnya siswi asal Makassar berinisial CYL (Cathlyn Yvaine Lesmana) ke tingkat pusat.
Padahal, sebelumnya beredar rumor kalau Cathlyn sudah mengamankan posisi tiga besar dalam ranking awal seleksi di tingkat provinsi.
Direktur Penyelenggaraan Program Paskibraka BPIP Pusat, Fuad Lutfi, menegaskan bahwa penentuan kandidat yang dikirim ke Jakarta tidak diputuskan secara sepihak atau didominasi oleh oknum tertentu.
Proses ini melibatkan kolaborasi ketat antara Pemprov Sulsel, pansel daerah, BPIP, hingga Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Pusat.
“Keputusan tidak ditentukan satu orang atau satu lembaga saja. Ini hasil penilaian lintas unsur sesuai pedoman nasional,” kata Fuad, Kamis (28/5/2026), dikutip dari keterangan tertulisnya.
Fuad menjabarkan bahwa akumulasi nilai akhir bukan cuma berkutat pada aspek akademik atau Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) saja.
Tim penilai melihat kesiapan menyeluruh (holistik) secara berjenjang, mulai dari rekam medis kesehatan, kesamaptaan fisik, peraturan baris-berbaris (PBB), kepribadian, hingga kekuatan mental sang anak.
Berdasarkan total rekap skor akhir seluruh komponen tersebut, CYL diklaim tidak masuk dalam tiga besar kuota rekomendasi utama ke pusat.
View this post on Instagram
Sanggahan resmi BPIP ini berbanding terbalik dengan narasi yang telanjur beredar luas di media sosial. Publik sebelumnya dihebohkan oleh kabar pergantian mendadak posisi CYL yang digeser oleh peserta lain asal Kabupaten Gowa.
Netizen makin curiga karena rumornya, peserta pengganti tersebut bahkan tidak masuk dalam radar 10 besar ranking awal.
Padahal, komposisi awal tiga besar sektor putri yang sempat disetujui panitia diisi oleh dua perwakilan Makassar dan satu dari Bone.
Kasus ini pun hingga kini masih terus dikawal ketat oleh netizen yang menuntut transparansi nilai.
Sumber: Konteks