RAKYATDAILY.COM – Museveni Menang Pilpres Uganda, Perpanjang Kekuasaan Hampir 40 TahunPresiden Uganda Yoweri Museveni kembali memenangkan pemilihan presiden (pilpres) dan mengamankan masa jabatan ketujuhnya setelah meraih 71,65 persen suara.
Demikian berdasarkan hasil resmi yang diumumkan pada Sabtu (17/1/2026).
Melansir laporan Associated Press, Pilpres Uganda berlangsung di tengah kontroversi, termasuk pemadaman internet selama beberapa hari dan tuduhan kecurangan yang disampaikan oleh penantang utamanya dari kalangan muda.
Penantang tersebut adalah musisi yang beralih menjadi politisi, Bobi Wine, yang menurut hasil akhir pemilihan memperoleh 24,72 persen suara.
Wine, yang memiliki nama asli Kyagulanyi Ssentamu, menolak hasil pilpres dan menyebut proses pemilihan berlangsung tidak adil.
Dalam pernyataannya, Wine menuduh adanya penculikan terhadap agen pemungutan suara dari pihaknya bahkan sebelum proses pencoblosan dimulai di beberapa wilayah Uganda.
Ia menyebut hasil pilpres “palsu” dan menyerukan kepada warga Uganda untuk melakukan aksi protes damai hingga apa yang ia sebut sebagai “hasil yang sah” diumumkan.
Wine bahkan mengaku bahwa ia terpaksa melarikan diri untuk menghindari penangkapan, setelah aparat keamanan mendatangi rumahnya pada Jumat (16/1) malam.
Namun, juru bicara kepolisian Kituuma Rusoke membantah klaim tersebut.
Ia menyatakan bahwa Wine “tidak berada dalam tahanan” dan bebas meninggalkan rumahnya.
Meski demikian, polisi memberlakukan pembatasan akses bagi pihak lain yang ingin masuk ke rumah tersebut guna mencegah penggunaan lokasi itu untuk menghasut kekerasan.
Pilpres ini juga diwarnai pertanyaan serius terhadap gagalnya mesin identifikasi pemilih biometrik pada Kamis (15/1), yang menyebabkan keterlambatan pemungutan suara di sejumlah wilayah perkotaan, termasuk ibu kota Kampala, yang dikenal sebagai basis kuat oposisi.
Setelah mesin biometrik tidak berfungsi, petugas pemilu akhirnya menggunakan daftar pemilih dalam bentuk cetak.
Keputusan ini dinilai sebagai kemunduran oleh aktivis pro-demokrasi yang selama ini mendorong penggunaan teknologi biometrik untuk mencegah kecurangan.
Kegagalan sistem tersebut diperkirakan akan menjadi dasar utama gugatan hukum terhadap hasil resmi pilpres.
Hingga saat ini, Wine belum memastikan apakah ia akan mengajukan gugatan ke pengadilan.
Dalam pilpres-pilpres sebelumnya, pengadilan Uganda telah menolak upaya oposisi untuk membatalkan kemenangan Museveni, meskipun merekomendasikan reformasi pemilu.
Presiden Museveni menyatakan bahwa ia menyetujui keputusan komisi pemilihan umum untuk kembali menggunakan daftar pemilih manual setelah mesin biometrik gagal.
Namun, Wine menuduh telah terjadi penipuan besar-besaran, termasuk penggelembungan surat suara serta penculikan agen pemungutan suara dari partainya untuk memberi keuntungan bagi partai berkuasa.
Sementara itu, kepala misi pemantau dari African Union, mantan Presiden Nigeria Goodluck Jonathan, mengatakan kepada wartawan pada Sabtu bahwa timnya tidak menemukan bukti penggelembungan surat suara di tempat pemungutan suara yang mereka amati.
Ia mendesak otoritas pemilu untuk menguji mesin biometrik lebih awal agar kegagalan serupa tidak terulang di masa depan.
Namun, sejumlah pemantau lokal menyampaikan kritik lebih keras. Mereka menilai kegagalan mesin biometrik sebagai tanda bahaya.
Ketua organisasi sipil Foundation for Human Rights Initiative Livingstone Sewanyana mengatakan bahwa iklim pemilu diwarnai rasa takut dan ketegangan di kalangan pemilih, sehingga sebagian warga memilih tidak ikut serta dalam proses pemungutan suara.
Tingkat partisipasi pemilih tercatat 52 persen, yang merupakan angka terendah sejak kembalinya sistem multipartai pada 2006.
Museveni, yang kini berusia 81 tahun, telah mempertahankan kekuasaan selama puluhan tahun dengan mengubah aturan konstitusi, termasuk menghapus batas masa jabatan dan batas usia presiden.
Sejumlah pesaing politiknya telah dipenjara atau disingkirkan dan hingga kini ia belum menyatakan rencana pensiun.
Di jajaran atas partainya, Museveni tidak memiliki pesaing yang berarti.
Tokoh oposisi veteran Kizza Besigye, yang telah empat kali mencalonkan diri sebagai presiden, saat ini masih mendekam di penjara setelah menghadapi tuduhan makar yang ia klaim bermotif politik.
Akademisi dan kolumnis surat kabar lokal Observer, Yusuf Serunkuma, mengatakan kepada Associated Press bahwa Wine tidak pernah memiliki peluang nyata melawan Museveni yang bersifat otoriter dan memiliki kewenangan menunjuk komisi pemilihan umum.
Menurut Serunkuma, Museveni telah berhasil melemahkan oposisi, sehingga meskipun menghadapi tantangan dari Wine, presiden tetap berhadapan dengan salah satu oposisi terlemah dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini diperparah oleh perpecahan di kubu oposisi, sementara Museveni tetap menjadi pemimpin tak terbantahkan di partainya dan memegang kendali atas angkatan bersenjata.
Pilpres juga berlangsung di tengah pemadaman internet nasional yang diberlakukan sejak Selasa (13/1) hingga Sabtu malam.
Kebijakan tersebut dikeluarkan oleh Uganda Communications Commission, yang memerintahkan penyedia layanan internet menghentikan akses dengan alasan ancaman terhadap keamanan nasional, meskipun tanpa dasar hukum berupa status darurat nasional.
Pemadaman ini berdampak luas terhadap kegiatan ekonomi, mulai dari usaha taruhan olahraga hingga pengemudi Uber.
Sepanjang masa kampanye, kehadiran aparat keamanan sangat terasa.
Wine mengatakan bahwa aparat terus mengikutinya, mengintimidasi para pendukungnya, dan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Karena kekhawatiran terhadap keselamatannya, ia berkampanye dengan rompi antipeluru dan helm.
Uganda sendiri belum pernah mengalami pergantian kekuasaan presiden secara damai sejak merdeka dari penjajahan Inggris sekitar enam dekade lalu.
Sumber: Liputan6