EKSKLUSIF! Kesaksian Himawan, 3 Malam Bersama Ali Berjuang Keluar dari Gunung Slamet, Sempat Saling Menyalahkan

RAKYATDAILY.COM – Himawan Choidar Bahran, teman mendaki Ali Syafiq siswa SMAN 5 Magelang yang meninggal di Gunung Slamet, mengungkap apa yang terjadi terhadap mereka di puncak gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa itu.

Ternyata keduanya sempat berjuang bersama selama tiga malam usai mereka tersesat di Puncak Gunung Slamet dan keluar dari jalur pendakian resmi.

Abdul Azis dari Wanadri, bertanya langsung kepada Himawan apa sebenarnya yang terjadi di sana.

Abdul Azis menemui Himawan di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (9/1/2026) lalu.

Kepada wartawan, Jumat (16/1/2026), Abdul Azis menceritakan kembali apa yang dilakukan Himawan dan Ali Syafiq di Puncak Gunung Slamet sejak mereka mendaki Sabtu (27/12/2025).

Berikut kronologi pendakian Himawan dan Ali Syafiq atau Syafiq Ridan Ali Razan saat mereka tersesat di Gunung Slamet hingga menyebabkan Ali Syafiq meninggal dunia.

Sabtu 27 Desember 2025

Menurut Abdul, Himawan dan Syafiq Ali memutuskan mendaki Gunung Slamet pada Sabtu (27/12/2025).

Keduanya berjalan kaki dan tidak naik ojek sehingga perjalanannya lamban hingga ke basecamp.

Keduanya baru tiba di Basecamp Dipajaya pukul 20.00 WIB, Sabtu. Di sana mereka sempat melakukan registrasi, makan, dan beristirahat di basecamp.

Menurut Himawan, kondisi fisik mereka masih bagus saat itu, dengan cuaca Gunung Slamet yang cerah.

Minggu 28 Desember 2025

Mereka memulai pendakian di tengah malam, di pukul 00.00 WIB, dengan rencana pendakian tektok melalui jalur Dipajaya.

Pukul 04.00 WIB, mereka tiba di Pos 2 dan sempat shalat Subuh. Kemudian pukul 06.00 WIB, Himawan dan Syafiq tiba di Pos 3.

Di pos itu, mereka meninggalkan ransel yang berisi 2 nasi bungkus, baju ganti milik Syafiq Ali, alat mandi, 1 headlamp, dan 2 jas hujan.

Barang yang mereka bawa untuk summit hanyalah hydropak berisi air mineral 1,5 liter, 7 botol air mineral 600 ml, 1 sari gandum, tas P3K, 1 emergency blanket, dan 1 hand warmer.

Tepat pukul 09.00 WIB, mereka tiba di Pos 5. Di situ mereka menitipkan barang-barang ke warung, berupa sampah air mineral dan beberapa bungkus makanan.

Lalu pada pukul 12.00 WIB, mereka tiba di Pos 9, dan terus melanjutkan perjalanan ke puncak. Pukul 14.00 WIB, mereka baru mencapai puncak Gunung Slamet.

Secara aturan, kalau pukul 10 pagi belum sampai Puncak Gunung Slamet, pendaki sebaiknya turun.

Menurut pengakuan Himawan, saat sampai di puncak Gunung Slamet, mereka hanya menemukan 5 orang pendaki.

Tepat pukul 15.00 WIB, mereka baru mulai turun, dengan mengikuti seorang bapak-bapak pendaki.

Sayangnya, langkah bapak-bapak ini sangat cepat, sehingga mereka tertinggal dan menjadi pendaki terakhir yang turun dari puncak.

Akhirnya Himawan dan Syafiq Ali mulai disorientasi soal arah akibat cuaca buruk yang mengadang saat turun dari Puncak Gunung Slamet.

“Yang harusnya mereka ke kiri ke arah jalur Dipajaya, mereka malah ke kanan yang mengarah ke Gunung Malang,” ujar Abdul.

Di fase inilah, sempat terjadi saling menyalahkan antara keduanya soal kesalahan memilih jalur. Namun, mereka tetap melanjutkan turun, dengan Ali dan Himawan saling bergantian menjadi leader.

Hingga akhirnya mereka sampai di lembahan (jalur air), dan hari sudah menjelang gelap saat tiba di area bebatuan, belum mencapai area hutan.

Menurut Himawan, Syafiq Ali sempat mengeluarkan senter sejenis SWAT warna hitam, yang kondisinya mati-hidup tidak normal.

Namun kemudian mereka lupa di mana meletakkan senter itu saat mereka duduk beristirahat. Tak lama, mereka lanjut menuruni area bebatuan yang riskan karena bisa membuat terpeleset dan merosot.

Perjalanan turun pada Minggu itu mentok saat mereka sampai di dekat jurang.

Akhirnya mereka kembali ke atas, mencari tempat perlindungan di sebuah batu besar, yang masih berada di area lembahan.

Di perjalanan malam itu Himawan sempat membuka hand warmer dan jatuh di sekitar area di mana mereka beristirahat. Tas P3K dan emergency blanket juga sempat terjatuh saat dibawa Ali.

Mereka pun memutuskan bermalam dengan pakaian seadanya yang dikenakan, tanpa emergency blanket atau selimut.

Menurut Himawan, cuaca malam itu cerah, namun kekuatan fisik mereka mulai menurun.

Senin 29 Desember 2025

Di pukul 02.00 pagi, Himawan terbangun dan sadar dompet dan HP-nya terjatuh, namun ia tak mengambilnya karena cuaca masih gelap.

Pukul 07.00 WIB mereka terbangun, Himawan sempat mengambil dompet dan hp-nya dan Syafiq Ali tiba-tiba melesat kembali turun untuk mengambil tas P3K dan emergency blanket.

Setelah mengambilnya, Ali langsung kembali ke atas dan mengenakan emergency blanket di bawah jaketnya. Saat itu, Ali terlihat buru-buru ingin turun, namun kondisi kaki Himawan sakit.

Menurut Himawan, kakinya ditekuk terasa sakit, dan sudah terasa sakit sejak pukul 02.00 pagi.

Syafiq Ali pun lalu bergerak ke atas lagi sekira pukul 08.00, berbelok ke kanan, dengan maksud untuk mencari bantuan dari pendaki lain. Di titik ini lah awal mereka berdua berpisah.

Himawan sempat tertidur sekitar 1,5 jam di situ, lalu terbangun dan merasakan kakinya sudah enakan.

Ia lalu berinisiatif menyusul Syafiq Ali ke atas, namun ia berbelok ke arah kiri menyusuri lerengan.

Berbeda dengan Ali Syafiq yang ternyata berbelok ke kanan.

Di kejauhan dia melihat ada jalur pendakian, yang belakangan diketahui itu adalah jalur pendakian Baturraden.

Saat sudah berjalan sekitar 30 menit, Himawan mendengar Ali memanggil namanya dari arah hutan di bawah jurang dekat tempat bermalam mereka.

Himawan coba memanggil Ali kembali, namun tidak ada respons. Himawan pun kembali ke arah tempat bermalam, sempat mau turun ke jurang namun mengurungkan niatnya.

Diketahui, Senin malam atau Senin dinihari itu, Ali sempat bermimpi, dan paginya cerita ke Himawan, bahwa jalan keluar mereka bisa turun lewat jurang itu kemudian ke kiri ada permukiman warga.

Himawan lalu memutuskan kembali naik dan sudah tidak mendengar teriakan Ali. Dia melangkah ke arah kiri hingga menemukan semacam bukit di mana hari sudah sore dan berkabut.

“Dia bingung karena sepi tidak ada tanda-tanda pos, akhirnya dia naik lagi mencari tempat bermalam lagi (berbeda dengan tempat sebelumnya),”jelas Abdul.

“Saat malam hari Himawan sempat melihat senter pendaki yang sedang summit di kejauhan, namun tidak melewati tempat dia istirahat, karena memang di luar jalur,” kata Abdul.

Sebelum hari menjelang malam, sore harinya Himawan sempat makan buah cantigi dan dedaunan untuk mengisi perutnya sebelum beristirahat di lerengan di Puncak.

Selasa 30 Desember 2025

Saat hari sudah mulai terang, Himawan memutuskan untuk terus naik, hingga akhirnya bertemu pendaki menjelang puncak.

Setelah menanyakan kondisi, pendaki tersebut memberikan makanan berupa bakso untuk Himawan.

Lalu Himawan turun dengan didampingi beberapa pendaki, di mana salah satu pendaki mencoba menghubungi pihak basecamp menggunakan HP dan menyampaikan info terkait pendaki yang hilang dan mereka sudah menemukan 1 orang.

Mereka pun melanjutkan turun pelan-pelan, sambil menunggu bantuan.

Menjelang tiba di Pos 9, mereka bertemu 4 orang ranger. Setelah mengobrol beberapa saat, Himawan didampingi satu ranger turun, dan 3 ranger lainnya melanjutkan pencairan Ali.

Himawan tiba di basecamp saat Maghrib.

Sumber: PojokSatu

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY