RAKYATDAILY.COM – Nama Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso mendadak menjadi perhatian publik setelah Aliansi BEM Bersatu menyinggung namanya dalam kaitan dengan Tiyo Ardianto.
Tiyo Ardianto sendiri diketahui sebagai salah satu figur yang terlibat dalam aksi mahasiswa yang menyuarakan penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penyebutan nama Setyo Sularso disampaikan dalam konferensi pers Aliansi BEM Bersatu yang digelar di Jakarta pada Selasa, 16 Juni 2026.
Setyo Sularso yang memiliki nama lengkap Muhammad Setyo Sularso merupakan purnawirawan TNI dan lulusan Akademi Militer tahun 1982.
Pria yang lahir pada 27 Mei 1959 itu mengawali perjalanan militernya dengan menjabat sebagai Komandan Pleton (Danton) 3 di Yonif 745/SYB.
Kariernya kemudian terus berkembang seiring berbagai penugasan yang diembannya di lingkungan TNI Angkatan Darat.
Pada tahun 1998, ia dipercaya memimpin Yonif 401/Banteng Raider sebagai Komandan Batalyon.
Dua tahun kemudian, Setyo Sularso mendapat tugas baru sebagai Dandim 0732/Sleman yang berada di bawah Korem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro.
Pengalaman dan rekam jejaknya di berbagai satuan membuat kariernya terus menanjak ke posisi yang lebih strategis.
Tahun 2007 menjadi salah satu tonggak penting ketika ia dipercaya menjabat Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro.
Kariernya berlanjut dengan penugasan sebagai Wakil Kepala Pusat Penerangan (Wakapuspen) TNI pada 2009.
Sementara pada 2014, ia kembali mendapat promosi jabatan dan menduduki posisi Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kaskostrad).
Menjelang masa akhir pengabdiannya, Setyo Sularso dipercaya mengemban jabatan sebagai Pangdam IX/Udayana.
Posisi tersebut kemudian mengantarkannya menduduki jabatan Inspektur Jenderal (Irjen) TNI, yang menjadi penugasan terakhirnya sebelum pensiun.
Jabatan bintang tiga itu sekaligus menandai puncak karier militernya setelah menggantikan Letjen TNI Torry Djohar Banguntoro di posisi sebelumnya.
Di luar perjalanan kariernya, Setyo Sularso juga diketahui memiliki hubungan keluarga dengan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Andika Perkasa melalui pernikahan anak mereka, serta pernah terlibat dalam tim pemenangan Andika Perkasa pada Pilgub Jawa Tengah 2024.
Dalam konferensi pers kemarin, Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, menyatakan pihaknya menemukan sejumlah indikasi yang menurut mereka menunjukkan adanya hubungan antara Tiyo Ardianto dan jaringan politik tertentu.
Satu di antara yang disorot adalah kendaraan Toyota Fortuner yang disebut digunakan oleh Tiyo dalam sejumlah aktivitas.
Menurut Rahmat, hasil penelusuran kelompoknya menunjukkan kendaraan tersebut diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni.
BEM Bersatu menyebut Siti Nuraeni merupakan adik dari Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso.
Berdasarkan temuan itu, mereka kemudian mempertanyakan kemungkinan adanya relasi antara Tiyo dan lingkungan keluarga mantan perwira tinggi TNI tersebut.
“Mobil yang digunakan Tiyo diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Ia adalah besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi,” kata Djimbula.
Tak berhenti di situ, BEM Bersatu juga mengaitkan Setyo Sularso dengan sejumlah tokoh politik nasional.
Dalam pernyataannya, mereka menyinggung hubungan kekeluargaan Setyo Sularso dengan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, yang pernah terlibat dalam tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.
Dugaan kedekatan inilah yang kemudian dijadikan dasar oleh kelompok tersebut untuk menyoroti kemungkinan adanya jejaring politik di balik aksi-aksi mahasiswa tertentu.
Meski demikian, tudingan mengenai keterkaitan antara Setyo Sularso dan Tiyo Ardianto sejauh ini masih berupa dugaan atau klaim yang disampaikan oleh BEM Bersatu.
Belum terdapat keterangan atau tanggapan resmi dari Setyo Sularso maupun Tiyo Ardianto terkait tuduhan tersebut.
Nama Tiyo Ardianto sendiri tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial maupun diskusi publik nasional.
Sebagai sosok yang menjabat sebagai Ketua BEM UGM, ia dinilai membawa gaya kepemimpinan yang berani dan analitis dalam dinamika gerakan mahasiswa saat ini.
Dalam beberapa pernyataannya, ia menyoroti potensi risiko anggaran MBG sebesar Rp225 Triliun yang dapat mengganggu jatah dana pendidikan nasional.
Pada Mei 2025, ia melayangkan mosi tidak percaya kepada Rektor UGM karena dinilai kurang berani mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat.
Aliansi mahasiswa ini tiba-tiba muncul sebagai kelompok yang mengambil sikap berseberangan dengan gerakan mahasiswa lainnya terkait isu nasional.
Tidak ada daftar resmi yang merinci seluruh universitas anggota aliansi ini secara menyeluruh.
Namun, diketahui bahwa juru bicara sekaligus perwakilan dari BEM Bersatu adalah Rahmat Djimbula, yang menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Islam Syekh-Yusuf (UIC).
Selain itu terdapat sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi lain, seperti Unpam, Universitas Nasional, hingga Unisia.
Sumber: Tribun