RAKYATDAILY.COM – Ratusan mahasiswa dari 17 perguruan tinggi negeri dan swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar aksi bertajuk “Bangkitlah Anak Muda” di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Kamis 21 Mei sore.
Kegiatan yang diinisiasi Social Movement Institute (SMI) itu menggabungkan pertunjukan musik dengan orasi bernuansa kritik sosial, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan momentum 26 tahun reformasi.
Koordinator Umum Forum BEM DIY, Faturahman Jaguna, menyebut aksi tersebut sebagai ruang untuk kembali menegaskan tuntutan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia berat yang hingga kini belum tuntas. Ia menilai para pelaku harus diadili tanpa pengecualian.
“Intinya kami menuntut agar pelaku pelanggaran HAM berat yang sampai sekarang belum tersentuh hukum segera diadili. Reformasi adalah kesepakatan bersama, tetapi hari ini ada anggapan reformasi justru diselewengkan oleh kekuasaan,” ujarnya disela-sela aksi.

Ia juga menolak anggapan bahwa pelanggaran HAM masa lalu dapat dihapus atau dibenarkan atas nama stabilitas politik maupun kepentingan negara.
Menurutnya, hal tersebut justru melemahkan prinsip keadilan.
“Tidak boleh ada upaya pemutihan terhadap pelanggaran HAM hanya demi legitimasi kekuasaan saat ini,” tegasnya.
Selain isu HAM, Faturahman menyoroti kondisi demokrasi yang menurutnya mengalami kemunduran.
Ia menyebut prinsip supremasi sipil dan hukum saat ini berada dalam ancaman, termasuk adanya dugaan pembatasan ruang berpendapat dan intimidasi terhadap aktivis.
“Supremasi sipil dan hukum hari ini dalam kondisi terancam. Aktivis masih mengalami intimidasi dan kebebasan berpendapat dibatasi. Ini menunjukkan gejala yang mirip dengan praktik masa Orde Baru,” jelasnya.
Dalam aksi tersebut, Forum BEM DIY juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah, di antaranya proyek strategis nasional (PSN), isu eksploitasi masyarakat adat, program makan bergizi gratis (MBG), serta Koperasi Merah Putih.
Kebijakan tersebut dinilai berpotensi membebani anggaran negara.
Mereka kemudian mendorong agar alokasi anggaran negara diprioritaskan untuk kesejahteraan buruh, pendidikan gratis, dan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
Faturahman juga menegaskan bahwa kondisi saat ini menjadi alasan munculnya kembali gagasan “reformasi jilid II”.
Menurutnya, reformasi 1998 memang berhasil mengakhiri kekuasaan Orde Baru, namun sejumlah agenda seperti reformasi partai politik dan birokrasi dinilai belum selesai.
“Reformasi jilid dua itu penting karena masih ada pekerjaan rumah besar, terutama pembenahan partai politik dan birokrasi agar demokrasi lebih substantif,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, massa turut mengajukan dua tuntutan legislasi utama, yakni pengesahan Undang-Undang Masyarakat Adat serta penyusunan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Aktivis.
“Kita menolak eksploitasi masyarakat adat, kemudian bagaimana penolakan MBG yang tidak sesuai dan dipermintaan oleh rakyat sendiri. Kita meminta bahwa program ini dialihkan pada konteks kesejahteraan buruh, pendidikan gratis, dan juga bagaimana membuka peluang ketenangan kerjaan yang lebih besar,” katanya.
“Lalu Koperasi Merah Putih juga kita bagiannya kita sorot untuk bagaimana program ini adalah program yang sangat membebani keuangan negara,” sambungnya.
Sementara itu, aktivis muda Delpedro Marhaen mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi ruang pemulihan psikologis bagi para aktivis yang disebut masih menghadapi tekanan dan intimidasi.
“Aksi ini juga untuk mengurangi rasa takut setelah adanya penangkapan aktivis pada Agustus 2025 serta teror terhadap Andri Yunus. Ini bagian dari upaya melawan intimidasi dan menghidupkan kembali keberanian,” katanya.
Ia menambahkan, konser tersebut menjadi wadah berkumpulnya ratusan anak muda yang menyampaikan aspirasi melalui musik dan orasi.
“Lebih dari 500 anak muda hadir hari ini. Ini ruang untuk menyuarakan pendapat sekaligus memperkuat solidaritas,” ujarnya.
Aktivis lainnya, Muhammad Fakhrurrozi, atau akrab disapa Paul, menilai gerakan anak muda di Yogyakarta masih cukup kuat, meski tidak selalu terpusat dalam satu wadah besar.
Menurutnya, gerakan tersebut tersebar di berbagai komunitas.
“Antusiasme anak muda di Jogja tetap tinggi, hanya saja gerakannya tersebar di berbagai ruang seperti komunitas literasi, gerakan perempuan, dan forum mahasiswa,” pungkas Paul.
Sumber: Herald