RAKYATDAILY.COM – Di tengah berkecamuknya perang, Teheran mulai melonggarkan cengkeramannya atas jalur urat nadi perdagangan minyak dunia, Selat Hormuz.
Otoritas Iran secara selektif mulai mengizinkan kapal-kapal niaga dari ‘negara sahabat’ untuk melintas dengan pengawalan aman.
Namun, nasib dua kapal tanker raksasa milik Indonesia hingga kini masih tertahan di perairan Teluk Arab.
Langkah selektif Iran ini terbukti lewat lolosnya kapal tanker minyak milik Bangchak Corporation asal Thailand pada Senin (23/3/2026).
Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengungkapkan bahwa pelayaran aman tersebut adalah buah dari lobi diplomatik intensif dengan Duta Besar Iran di Bangkok.
“Kami memberikan daftar kapal yang akan melintas, dan mereka (Iran) berjanji akan mengurus serta memastikan keselamatannya,” ujar Sihasak.
Kesepakatan ini krusial bagi Bangkok, mengingat dua pekan sebelumnya sebuah kapal berbendera Thailand sempat menjadi sasaran proyektil di selat yang sama.
Kebijakan buka-tutup Selat Hormuz ini ditegaskan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Berbicara di televisi pemerintah, Araghchi menegaskan bahwa selat tersebut tidak sepenuhnya diblokir.
“Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat,” ujar Araghchi, seperti dikutip kantor berita Reuters.
“Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman,” tambahnya.
“Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir,” lanjutnya.
Data intelijen maritim Kpler mencatat penurunan drastis volume lalu lintas di Selat Hormuz.
Jika sebelum perang ada sekitar 138 kapal yang melintas setiap hari, sepanjang bulan ini rata-rata hanya tersisa lima hingga enam kapal per hari.
Mayoritas dari kapal-kapal yang berani melintas kini berafiliasi dengan Iran, China, atau India, dan terpaksa mengambil rute lebih ke utara mendekati perairan teritorial Iran agar mudah dipantau oleh aparat Teheran.
Sebaliknya, Iran menutup rapat pintu bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh.
“Kawasan ini adalah zona perang. Tidak ada alasan bagi kapal-kapal Amerika Serikat, Israel, atau sekutu mereka di Teluk untuk diizinkan melintas,” imbuh Araghchi.
Di tengah lobi-lobi negara lain yang mulai membuahkan hasil, Indonesia masih harus berjuang keras. Hingga Kamis (26/3/2026), dua kapal tanker andalan Tanah Air, yakni PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih tertahan dan belum mendapat lampu hijau untuk menembus Selat Hormuz.
Berdasarkan pantauan MarineTraffic, Pertamina Pride saat ini lego jangkar di sebelah utara Kota Dammam, Arab Saudi.
Sementara itu, kapal Gamsunoro terpantau berada di perbatasan pesisir Kuwait dan Irak.
Meski posisinya terhenti, Pertamina International Shipping (PIS) memastikan keamanan kru dan kargo tetap menjadi prioritas utama.
Kapal Pertamina Pride diketahui tengah mengangkut kargo untuk kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro melayani pihak ketiga.
“Kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri, mengingat Pertamina Group saat ini mengoperasikan 345 kapal,” tegas Pjs Sekretaris Korporat PIS Vega Pita.
Saat ini, bola panas berada di tangan para diplomat. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) terus mengintensifkan komunikasi dengan otoritas di Teheran agar kedua kapal tanker berbendera Indonesia tersebut segera masuk dalam daftar ‘negara sahabat’ dan diizinkan melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Sumber: Inilah