RAKYATDAILY.COM – Politikus senior Panda Nababan membuka banyak cerita lama. Tentang persahabatan. Tentang kekuasaan. Tentang luka politik yang tak selalu dibalas dendam.
Dalam podcast Keadilan TV, Panda berkisah soal momen ketika Megawati Soekarnoputri membantu Prabowo Subianto saat masih “luntang-lantung”.
Saat itu, kata Panda, Prabowo sedang menghadapi persoalan bisnis dan membutuhkan dukungan kredit dari Bank Mandiri.
“Mega bilang ke saya, ‘Panda, kau bantu Prabowo. Temani dia ketemu Pak Neloe,’” kata Panda.
Cerita itu, menurutnya, kembali terputar saat mendengar pidato Prabowo di sidang paripurna DPR. Atmosfernya disebut mirip pertemuan di Teuku Umar. Hangat. Personal. Tanpa sekat politik.
“Pidato kemarin itu kayak film diputar ulang,” ujarnya.
Panda menyebut Megawati punya kemampuan memisahkan urusan emosional dan rasional. Meski keluarga Bung Karno pernah ditekan Orde Baru.
Meski Prabowo pernah menjadi bagian dari lingkar kekuasaan Soeharto. Namun, Mega disebut tidak menyimpan dendam.
“Di situ jiwa besarnya. Enggak ada membalaskan,” katanya.
Menurut Panda, hubungan Megawati dan Prabowo melampaui politik praktis. Ada ikatan persahabatan lama. Sama-sama tumbuh di lingkungan elite Jakarta. Sama-sama berasal dari keluarga besar republik.
Ia bahkan mengaku terkejut ketika Prabowo secara terbuka mengakui pernah ditolong Megawati di forum resmi negara.
“Itu bukan dibuat-buat. Mengalir. Alamiah,” katanya.
Dalam wawancara itu, Panda juga menyinggung posisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai penyeimbang pemerintahan.
Ia menegaskan PDIP tidak boleh kehilangan karakter hanya karena dinamika kekuasaan.
“PDI jangan sampai melacur. PDI jangan sampai tidak punya karakter,” tegasnya.
Ia menilai posisi oposisi justru penting bagi demokrasi. Check and balances, kata dia, harus tetap hidup.
Panda juga memuji Prabowo karena tidak menyebut nama Joko Widodo dalam pidato yang banyak menyinggung PDIP dan Megawati.
“Kalau disebut, itu bisa menyakiti PDI Perjuangan,” ujarnya.
Meski begitu, Panda mengingatkan suasana di akar rumput belum sepenuhnya sejalan dengan pidato elite.
Ia mengaku masih mendengar adanya tekanan terhadap kader PDIP di daerah.
“Di lapangan masih ada. ‘Oh itu orang PDI’. Masih begitu,” katanya.
Panda berharap penghormatan terhadap oposisi tidak berhenti di pidato. Ia ingin ada komunikasi konkret.
Pertemuan langsung. Diskusi terbuka antara pemerintah dan PDIP.
“Demokrasi gotong royong itu jangan teori-teori. Harus konkret,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Panda kembali bicara soal karakter politik. Tentang integritas. Tentang pentingnya menjaga moralitas di tengah kekuasaan.
“Prabowo menunjukkan karakter dia. Dia ingat siapa yang pernah menolong dia waktu susah,” katanya.
Sumber: Herald