RAKYATDAILY.COM – Rismon Hasiholan Sianipar mengungkapkan kesan berbeda setelah bertemu langsung dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Menurutnya, Jokowi tidak menginginkan polemik ijazah yang selama ini menjadi perhatian publik berakhir dengan pemidanaan terhadap Roy Suryo maupun Dokter Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa).
Rismon mengatakan, dari pertemuan tersebut ia menangkap bahwa Jokowi lebih mengutamakan penyelesaian persoalan agar tidak terus menjadi isu politik yang memecah masyarakat.
“Saya kasih footnote ya, footnote tebal. Bukan karena Pak Jokowi ingin menghukum Pak Roy dan Bu Tifa. Setelah saya ketemu, yang beliau inginkan adalah kebenaran,” kata Rismon, Kamis (30/7/2026).
Menurut Rismon, Jokowi berharap polemik mengenai ijazah dapat segera dituntaskan sehingga tidak lagi menjadi bahan perdebatan berkepanjangan.
“Pak Jokowi menginginkan ini diselesaikan sehingga damai lagi Indonesia ini. Jangan isu seperti ini dijadikan bahan atau alat untuk propaganda politik,” ujarnya.
Rismon juga meyakini Jokowi akan memenuhi panggilan pengadilan apabila dibutuhkan dalam proses hukum yang sedang berlangsung.
Namun, ia menegaskan kehadiran mantan presiden itu bukan untuk mengejar hukuman bagi pihak-pihak yang mempertanyakan keaslian ijazahnya.
“Pak Jokowi pasti datang. Bukan karena ingin menghukum Roy Suryo dan Bu Tifa, tetapi karena ingin persoalan ini tuntas dan tidak ada lagi yang mengganggu di kemudian hari,” katanya.
Ia sekaligus membantah anggapan yang menyebut proses hukum terkait polemik ijazah merupakan bagian dari skenario yang dirancang Jokowi.
“Kalau dibilang ini skenario Pak Jokowi, wah janganlah. Ceritanya nggak ketemu,” ujar Rismon.
Pernyataan Rismon muncul di tengah berlanjutnya proses hukum terkait polemik ijazah Jokowi yang kini memasuki babak baru.
Perkara dugaan pencemaran nama baik dengan terdakwa Dokter Tifa dijadwalkan kembali disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur setelah jaksa memperbaiki surat dakwaan yang sebelumnya dinyatakan kabur oleh majelis hakim.
Di sisi lain, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi Utama, kembali menegaskan keyakinannya bahwa ijazah Jokowi adalah dokumen asli.
Bahkan, ia mengaku siap menerima konsekuensi hukum apabila suatu saat terbukti sebaliknya.
“Saya dari awal itu sudah mengatakan, waktu saya dipanggil pertama kali oleh Polda Metro Jaya, waktu BAP pertama saya mengatakan, mau bagaimanapun saya tetap akan lawan kalian,” kata Dian.
Dian bahkan menyatakan kesediaannya dipenjara seumur hidup apabila ijazah Jokowi terbukti palsu.
“Kalau ijazah ini palsu, penjarakan saya seumur hidup. Nggak usah sidang-sidang saya. Ayo, saya tanda tangan di atas materai,” ujarnya.
Menurut Dian, polemik yang terus berlangsung membuat Jokowi tidak dapat menikmati masa pensiunnya dengan tenang bersama keluarga di Solo.
“Beliau ini mau istirahat, mau bersama anak cucu di Solo. Tapi kan diganggu-ganggu terus,” kata Dian.
Ia berharap polemik mengenai ijazah Jokowi segera berakhir sehingga tidak lagi menjadi perdebatan yang berkepanjangan di ruang publik.